Mahasiswa UGM: Bukan Calon Menantu Idaman
[Disclaimer] Saya menulis artikel ini untuk memberikan point of view yang berbeda kepada adik-adik kelas XII SMA yang hendak meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, terutama di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Segala yang tertulis di sini hanya berdasarkan pengalaman saya selama enam bulan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di UGM, sehingga pasti terdapat kesalahan di sana-sini. Oleh karena itu, jika ada yang perlu dikoreksi harap tuliskan pada kolom komentar. Terima kasih.
Resmi sudah saya menjadi mahasiswa di kampus yang katanya nomor satu se-Indonesia ini. Yep, Universitas Gadjah Mada. Sangat terasa enam bulan telah berlalu semenjak saya memperoleh titel mahasiswa baru. Ya, bukannya tidak terasa, karena hari-hari saya selama di kampus terasa sangat lama, mungkin saking banyaknya kegiatan kampus yang saya ikuti.
Sampai sekarang, saya masih selalu mengagumi kehidupan mahasiswa di UGM, sebab segala macam ekspektasi saya terhadap kehidupan di kampus ini, dengan kenyataannya hampir selalu bertolak belakang, dan kehidupan kampus di UGM selalu berhasil memutarbalik perspektif saya akan banyak hal.
Pada awal sebelum masuk kuliah, saya harus menjalani kegiatan semacam ospek yang diberi nama PPSMB. Dengan tugas-tugas dan atribut-atribut yang sebegitu banyak, serta berbekal pengalaman sebagai anggota tonti/paskibra di SMA yang telah terlatih dibentak-bentak dan diintimidasi, saya berekspektasi bahwa PPSMB akan sangat menyeramkan dibandingkan ospek atau pelatihan-pelatihan tonti di SMA yang tidak ada apa-apanya. Namun demikian, setelah menjalani PPSMB, ternyata saya benar! PPSMB memang sangat menyeramkan. Entah siapa yang memiliki ide out-of-the-box yang sangat menyeramkan ini. Daripada ikut-ikutan kampus lain yang melaksanakan ospek dengan penuh marabahaya, intimidasi dan penindasan, UGM dengan menyeramkan mampu memutarbalik anggapan saya bahwa pembentukan sifat-sifat baik dan solidaritas antar sesama hanya dapat dilakukan melalui represi dan penindasan. Begitulah PPSMB. Tanpa kekerasan, sedikitpun. Baik yang verbal maupun non-verbal. Sangat menyeramkan.
Ekspektasi saya terhadap kehidupan mahasiswa UGM berdasarkan cerita-cerita yang beredar di masyarakat, akan para mahasiswanya yang cerdas, progresif, alim, rajin mengaji, suka menabung, tidak sombong, dan taat pada perintah agama, juga seketika luntur tak bersisa segera setelah beberapa hari saya masuk kuliah. Bukan, mahasiswa UGM bukanlah seperti yang ada dalam dongeng-dongeng yang beredar dalam masyarakat. Mahasiswa-mahasiswi di sini sedikit-banyak sama saja dengan mahasiswa-mahasiswi di universitas lain. Ada mahasiswa yang progresif, kritis, ada pula yang apatis. Ada mahasiswa yang tiap jam makan siang olahraga hisap-menghisap tembakau di sudut-sudut taman kampus, ada pula yang nongkrong di musala. Ada mahasiswa yang tiap malam sibuk membaca buku-buku filsafat yang berat ditemani anggur merah, ada mahasiswa yang hampir tiap malam party, ada mahasiswa yang tiap malam main game di rumah atau di kos masing-masing, ada pula yang tiap malam masih sibuk mengurusi organisasinya atau UKM-nya, dan lain-lain, dan sebagainya.
Jadi tolong berhenti mendiskriminasi mahasiswa UGM sebagai calon menantu idaman, sebab sejujurnya kami sama saja dengan mahasiswa-mahasiswi dari kampus lain, dan sifat-sifat kami pun berbeda-beda layaknya manusia biasa. Tidak semua dari kami memenuhi kriteria sebagai menantu idaman, saya contohnya. Hehehe.
Saya sendiri merasa bahwa mahasiswa UGM lebih pantas didiskriminasi sebagai mahasiswa-mahasiswi yang 'bandel'. Menurut saya, para mahasiswa UGM sangat memenuhi kriteria untuk diberi label 'bandel'. Bagaimana tidak? Hampir setiap saat selalu ada wacana perubahan struktural dalam setiap elemen-elemen kampus dan tidak sedikit juga yang akhirnya terealisasikan. Bagaimana mungkin perubahan demi perubahan yang sangat dinamis itu selalu terjadi di dalam kampus jika para mahasiswanya bersikap penurut? Tentu saja perubahan selalu ada ketika orang-orang bandel berontak, ogah mengikuti aturan yang tidak sesuai dengan visi mereka.
Baru saja saya membaca artikel yang sangat menarik yang ditulis oleh seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan di sini. Terdapat fakta yang sangat mengejutkan bagi saya, bahwa dalam himne UGM tidak terdapat syair yang menyatakan keinginan untuk membuat UGM jaya. Yang ada hanya syair tentang kejayaan Indonesia dan kejayaan Nusantara. Himne tersebut seharusnya merepresentasikan visi para pendirinya dahulu. Itu berarti UGM pada awal pendiriannya memang dimaksudkan untuk mendidik para calon pemimpin bangsa, untuk bersama-sama membangun Indonesia yang jaya. Bukan sekadar untuk berkompetisi menjadi perguruan tinggi nomor satu di Indonesia.
Untuk itu, saya mengajak adik-adik kelas XII yang sebentar lagi akan meninggalkan bangku sekolah dan berniat menjadi mahasiswa UGM untuk tidak memilih UGM, jika orientasimu hanya untuk mendapatkan jas berwarna karung goni, atau hanya untuk mendapatkan label diskriminatif berupa 'menantu idaman'. Jangan memilih UGM hanya karena asumsi bahwa lulusan UGM mudah mendapatkan pekerjaan. Jangan memilih UGM jika kamu takut perubahan. Jangan memilih UGM jika kamu tidak bisa menerima perbedaan, serta jangan pula memilih UGM jika ingin hidupmu aman, tentram, dan damai.
Diterima menjadi mahasiswa UGM adalah sebuah kebanggaan.....awalnya. Namun setelah dipikir-pikir lagi, menjadi mahasiswa UGM sama saja dengan secara tidak langsung mengemban amanah yang sangat berat dari rakyat Indonesia untuk membenahi Indonesia selepas lulus nanti. Bayangkan dari ratusan ribu pendaftar, hanya sekitar sembilan ribu mahasiswa baru yang diterima. Bayangkan uang kuliahmu nanti yang disubsidi oleh pajak rakyat Indonesia. Bayangkan betapa bersalahnya kita terhadap rakyat Indonesia jika kita mengkorupsi uang rakyat untuk kuliah di UGM demi kepentingan diri sendiri tanpa peka terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia.
Menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada berarti harus siap dengan segala konsekuensinya, sebab cita-cita UGM yang hakiki adalah untuk mendidik para calon pemimpin bangsa. Bukan sekadar calon menantu idaman.


Anjing kau ter, terpesona ak wkwk
ReplyDeletewoof woof
DeleteHmm
ReplyDeleteKemaki
ReplyDeletehehehe
DeleteHallo terra, tertarik dengan perbincangan di grup union, aku pun kemudian sekadar mampir ke webmu. Lanjutkan nulisnya! kok nggak masuk Balairung aja e?
ReplyDeletehalo mbak rosalina, terima kasih mbak! sejujurnya aku tidak terlalu suka jurnalistik, aku lebih suka menulis opini seperti ini hehe. Terima kasih atas apresiasinya :)
DeleteTulisan (luar) biasa dari mahasiswa (luar) biasa.
ReplyDeleteTenan mbrebes mili aku, hingga bergetar relung dadaku
terima kasih mbak Rani, semoga CDC bisa berkembang terus ya! :)
Deletesangat berfaedah sekali, tp sayang ternyata ugm tidak mendidik mahasiswanya untuk menjadi menantu idaman, padahal saya sekolah di ugm biar jadi calon menantu idaman 😂
ReplyDeletebuat universitas sendiri aja mz
DeleteBangga saat kamu bisa berkarya.. Jangan berhenti tera! Masih banyak hal yg belum kamu tulis.. Puisi mu mana?? :p
ReplyDeleteDitunggu tulisan berikutnya, terutama tulisan tentang 'Me and My FoodTruck'. Hehehehehehe.
ReplyDelete