Tidak Sopan Lebih Baik Daripada Munafik.
Tadi pagi (25/5) di sekolah saya sempat mengalami peristiwa yang menarik. Saya sedang berbicara dengan Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana pra-sarana. Yang saya bicarakan adalah mengenai pembelian barang-barang baru untuk keperluan OSIS. Pada saat itu saya berbicara dengan bahasa ngoko. (atau bahasa jawa kasar) Saya dengan Pak Waka ini memang lumayan akrab. Saya tidak biasa berbicara Bahasa Jawa Krama karena saya memang terlahir di Jawa Barat. Maka dari itu, saya biasa bicara ngoko terhadap siapapun yang saya anggap sudah akrab. Saya tetap menghormati Pak Waka dan Pak Waka pun tidak masalah dengan gaya bahasa saya.
Menariknya, pada saat kami berbicara, lewat lah seorang guru Bahasa Indonesia yang mendengar obrolan saya, guru tersebut langsung menegur saya karena menganggap saya tidak sopan berbicara dengan orang yang kedudukannya lebih tinggi menggunakan bahasa ngoko. Akhirnya saya mengubah bahasa saya menjadi Bahasa Indonesia.
Well, bukannya kesopanan adalah salah satu bentuk dari kemunafikan? Orang-orang sopan hanya di hadapan orang lain bukan? Jika seseorang sedang sendiri, maka kesopanan sudah tidak berlaku bukan? Apakah dengan kesopanan dapat menjamin seseorang tidak akan menusuk dari belakang?
Sudah terlalu banyak orang yang sopan di hadapan orang banyak; tetapi saat tidak di hadapan orang banyak, tindak lakunya kotor. Ambil contoh para poli-tikus (saya pribadi tidak suka politik. Jadi saya lebih senang menyebut poli-tikus. Karena mereka ini amat kotor. Lebih kotor daripada tikus di got.) Para poli-tikus petahana di badan legislatif negara maupun daerah, sangat sopan di hadapan masyarakat dan di hadapan pers. Namun apa mereka sesopan itu saat sedang rapat paripurna atau rapat dadakan? Saya berani jawab: TIDAK. Jangankan hadir rapat, titip absen pun hal yang WAJAR. Jika terpaksanya ikut rapat, mereka sebagian memutuskan TIDUR dalam rapat.
Dan bukannya dalam Agama-agama Samawi pun dipertegas bahwa tidak ada sistem kasta dan manusia semuanya adalah sederajat? Dipertegas pula bahwa tidak ada golongan-golongan yang lebih tinggi derajatnya, yang membedakan hanyalah tingkatan amal. Tapi apakah kita dapat mengetahui jumlah amal seseorang melalui panca-indera? Jadi apakah permasalahan bahasa jawa ngoko dan krama ini masih relevan? Jika ukurannya memang usia, oke lah saya mundur, anggap saja tulisan ini tulisan ngawur. Tapi saya lihat di masyarakat banyak fenomena majikan (yang lebih muda) bicara ngoko terhadap pekerjanya yang lebih tua.
Definisi munafik menurut KBBI : (adj) selalu mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Dalam hal ini para anggota legislatif dalam janjinya saat masa kampanye apakah pernah terlaksana? Bahkan dalam Agama Islam dipertegas bahwa tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat. Jadi apakah anggota legislatif petahana ini jujur, menepati janji, dan dapat dipercaya? Apakah mereka berbuat benar?
Ya, saya menggeneralisasi seluruh legislatif tingkat manapun. Walau saya juga yakin ada minimal satu orang di tiap badan yang benar-benar bekerja demi Negara, bukan demi uang.
Dalam kasus di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, terjadi perang antara eksekutif (pemerintah) dengan DPRD ( parlemen) kita dengan hati nurani seharusnya bisa mengerti bahwa DPRD sejatinya memang bermain proyek UPS. Mereka berniat memakzulkan Gubernur DKI Basuki T Purnama jelas karena ingin menyamarkan proyek UPS tersebut. DPRD ini kita tahu bahwa mereka sopan di depan pers dan masyarakat. Lalu kita punya Pak Basuki, yang ceplas-ceplos, kurang ajar, tidak sopan. Tapi hati nurani tentu tahu mana yang benar.
Kalau sudah begini definisi sopan (adj) hormat dan takzim; tertib menurut adat yang baik, dengan definisi munafik menjadi crash, terbentur. Anggota DPRD selalu berlaku sopan, tetapi juga tidak jujur, tidak dapat dipercaya. Sedangkan Pak Basuki tidak sopan, tidak santun, bahasanya kotor. Tapi dengan hati nurani kita tahu beliau orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya. Beliau dengan jujur dan terang-terangan mengungkapkan kekesalannya, berbeda dengan anggota DPRD yang mengungkapkan kekesalannya di belakang Pak Basuki.
Kesimpulannya bahwa sopan jelas perlu, tapi jangan sampai kesopanan itu membawa kita pada kemunafikan. Sopan di depan orang banyak perlu, tapi sopan di belakang orang banyak jauh lebih perlu.




0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun