[Filsafat Indie] Tujuan Manusia Secara Kolektif?


Dalam beberapa minggu terakhir, saya membaca beberapa karya filsafat politik, seperti The Prince, Leviathan, serta Two Treatises of Government, akibat tuntutan kuliah. Pengalaman baru saya ini awalnya sama sekali tidak mudah, karena bahasa yang digunakan buku-buku tersebut adalah bahasa inggris kuno, dan saya tidak bisa menemukan versi terjemahan ke bahasa indonesianya.. Kalau ada yang punya boleh banget kirim ke saya yaa hehehe.

Jadi apa sih yang saya pelajari dalam buku-buku ini? Well, nggak pelajari juga sih sebenarnya, lebih tepatnya saya jadi memahami cara pandang penulisnya dalam memahami politik - dalam arti yang luas - di antaranya yang paling dominan yakni pertanyaan kenapa negara bisa ada, kenapa kita sebagai manusia membutuhkan negara, mengapa kita membutuhkan seorang penguasa, dan bagaimana sebaiknya kita berperilaku sebagai satu kesatuan warga negara.

Sejujurnya, saya juga nggak paham-paham amat sih ya isi bukunya. Tapi at least buku-buku tersebut sukses bikin otak saya overclock.. jadi entah kenapa tiap saya mandi saya jadi terus-terusan berkontemplasi tentang hidup (?) awalnya, saya hanya kepikiran, "setelah lulus kuliah saya mau ngapain ya?" dalam hati saya berkata apakah cukup mengikuti jejak orang lain saja - mengejar tangga korporasi atau birokrasi, mapan, menikah, punya anak, hidup enak, damai dan mati, atau saya mau pilih yang agak menyimpang - menjadi pekarya - musisi, penulis, pembuat film, atau apapun, dengan begitu saya bisa tetap mengaktualisasi diri saya.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, keduanya pun berujung pada hal yang sama; kesuksesan dan kemapanan. Yang lalu saya pikirkan adalah, "lantas apa?" Setelah mencapai puncak karier - baik sebagai pekarya maupun pekerja, ujung-ujungnya saya akan pensiun lalu mati dan dilupakan.

Seperti pepatah dari film The Greatest Showman; "All the shine of a thousand spotlights, all the stars we steal from the night sky will never be enough", manusia memang tidak pernah puas. Begitu memang yang saya rasakan sekarang. Hahahahaha, sukses dan mapan aja belum, udah mikirin setelah sukses dan mapan lantas mau ngapain. Tapi nggak munafik lho, manusia kan memang homo economicus katanya mas John Stuart Mill; bahwa kita selalu menginginkan kekayaan, kemewahan, waktu luang, dan prokreasi (baca: bikin anak). Iya iya, nggak semuanya kayak gitu kok, iya. Namanya juga filsafat, ya harus menggeneralisasi, hehe.

Nah jadi hubungannya sama filsafat politik apa sih? Ya ga ada sih hehehehe habis bingung gimana mulai tulisannya, sekalian mau "mengapresiasi diri" aja karena udah bisa baca buku filsafat yang berat :-)

Oke lanjut, jadi sekarang yang saya pertanyakan, apakah dengan kekayaan, kemewahan, waktu luang, dan prokreasi itu cukup untuk membuat kita puas dengan hidup ini? Well, menurut Epicurus, seorang filsuf yang seumur hidupnya mempelajari arti kebahagiaan, kita nggak akan pernah bisa meraih kebahagiaan lhoh dengan semua itu. Definisi bahagia menurut Epicurus yakni suatu kondisi di mana kita tidak merasakan penderitaan, dan menurutnya, ketakutan manusia akan kematian lah yang bikin manusia menderita. Yak betoel, pada dasarnya kita kan pengen kaya supaya bisa aman dari kematian, dan Epicurus berargumen bahwa nggak bisa kita bahagia kalo kita masih terlampau takut pada kematian. Epicurus berpendapat bahwa hal utama yang dapat membuat kita bahagia adalah pertemanan. Well, ini udah ada bukti empirisnya kok, studi yang dilakukan oleh Harvard selama 75 tahun menunjukkan bahwa yang membuat manusia tidak bahagia utamanya adalah karena rasa kesepian. Selain itu, menurut Epicurus, hal yang membuat bahagia adalah dengan mengaktualisasi diri, cara paling simpelnya? Lewat berkarya. Kalo menurut saya sendiri, kenapa peradaban kita bisa menjadi secanggih dan serumit sekarang ya, salah satunya yang paling berperan adalah keinginan kita akan keindahan yang tak pernah habis, baik itu dalam bentuk rupa, musik, cita rasa, dan sebagainya. Kalau kita nggak pengen keindahan, ya kita cukup hidup bercocok tanam aja terus-terusan, ya nggak? Tapi, sekali lagi Bapak Epicurus bilang bahwa, 'keindahan' yang diciptakan manusia itu nggak akan cukup bikin kita bahagia. Yang bikin bahagia bukan karena kita lihat pemandangan atau lukisan yang bagus, lihat konser musik yang keren, bukan. Yang bikin bahagia adalah pikiran kita akan keindahan. Se'jelek' apa pun suatu karya [menurut orang2], kalau kita suka dan kita benar-benar menikmati baru bisa bikin kita bahagia. Jadi ya, memang paling bikin bahagia kalau kita menjadi seorang pekarya yang jujur, yang memang kita suka untuk kita kerjakan.

Sampai sini, berarti saya sudah punya jawaban akan pilihan jalan hidup yang lebih baik: menjadi pekarya, demi kebahagiaan. Namun demikian, sialnya, pertanyaan saya tadi belum kejawab -_- LANTAS APA???

Iya jadi setelah saya bahagia, lantas apa??? Saya masih melihat mereka yang kurang beruntung mengalami penderitaan, iklim global akan segera berubah, kerusakan lingkungan di mana-mana, krisis sumber daya akan kita hadapi dalam beberapa dekade ke depan. Saya sih, sebagai seorang INFP yang sangat-sangat altruistik (nggak tegaan dan suka menolong, nggak mikirin risiko thd diri sendiri) kayanya nggak akan bahagia kalaupun saya nggak kesepian dan berhasil menjadi pekarya, kalau orang lain belum bahagia seperti saya. Lantas apa yang akan saya lakukan?

WELL, sejujurnya ini lah yang jadi pikiran saya selama beberapa minggu terakhir.

Saya tentunya paham, untuk membuat perubahan (demi menjadikan orang lain ikutan bahagia), saya nggak bisa sendiri. Tapi apa sih yang bisa diharapkan dari masyarakat saat ini? Di mana-mana kita terfragmentasi menjadi bermacam-macam kelompok kepentingan, keinginan kita sama: bahagia. Tapi caranya macem-macem dan bikin konflik kalau udah bertabrakan pandangan. Saya mulai mikir, apa saya masa bodo aja ya ngga usah ngurus hidup orang lain?

OK let's review, menurut filsafat politik yang pernah saya baca, manusia itu membentuk negara pada dasarnya ya karena kita itu homo economicus. Simpelnya gini, negara muncul karena pada awalnya manusia takut hasil panen dari kebunnya bakalan dirampok. Makanya kita butuh hukum kepemilikan, dan untuk meng-enforce hukum kepemilikan, harus ada suatu lembaga hukum kan ya? Maka dari itu mereka terus membuat kontrak dengan satu sama lain untuk tidak saling merampok barang milik orang lain. Nah, hukum ini terus-menerus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban, dan eventually berdirilah suatu negara. Jadi memang pada awalnya negara berdiri atas pemikiran rasional-ekonomis.

Eits, tunggu tunggu, kalo dipikir2, kalo kita lihat dalam konteks kontemporer, apa pun yang manusia lakukan, pasti selalu memiliki motif ekonomi, lhoh. Mulai dari konflik politik, lingkungan, ilmu pengetahuan, dan apa pun yang kita lakukan, tidak bisa lepas dari pemikiran rasional kita sebagai makhluk ekonomi.

Lantas sebenarnya, apa sih yang bikin kita tuh selalu berpikir rasional secara ekonomi???
Jawabannya simpel. Itu karena keinginan manusia yang tidak terbatas berbanding terbalik dengan sumber daya yang sangat, sangat terbatas. Ini hukum dasar ekonomi.

Yep, kalau kita dengar pemberitaan konflik internasional, peperangan, dan sebagainya, yang menjadi akar masalah selalu ialah perebutan sumber daya. Sumber daya bisa jadi daerah teritorial, kekuasaan, sumber daya alam (yang lagi ngetrend jadi meme tuh bahwa amerika selalu cari minyak bumi), kita menjelajah arctic dan antartika dengan misi mencari sumber daya baru. Kita menjelajah luar angkasa dengan motif mencari sumber daya baru. Kita mendesain birokrasi sedemikian rupa supaya sumber daya yang kita gunakan bisa efisien. Kita membuat kebijakan sosial dengan tujuan sumber daya yang didapat setiap individu bisa merata. Sumber daya, sumber daya, sumber daya, sumber daya, dan sumber daya.

Sustainable Development Goals, yang merupakan paradigma pembangunan yang lagi ngetrend sekarang pun, motifnya ekonomi lhoh. Coba kalo kerusakan lingkungan itu nggak ada kaitannya dengan krisis sumber daya, pasti nggak ada yang mau repot-repot menjaga lingkungan.

Oke, dengan asumsi tersebut, maka dengan mudah bisa kita jawab ya, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai manusia: menjaga agar bumi tetap lestari, dengan menjaga lingkungan, menggunakan sumber daya terbarukan, meningkatkan efisiensi sumber daya, bla bla bla bla bla. Saya bilang itu jawaban generik yang nggak masuk akal.

Kenapa begitu?

Manusia punya track record yang sangat buruk dalam menggunakan sumber daya. Semakin efisien teknologi dalam menggunakan suatu sumber daya, maka semakin masif lah sumber daya tersebut digunakan. Contoh paling gampangnya: bensin. Semakin efisien penggunaan bensin, nyatanya malah membuat korporasi semakin masif memproduksi kendaraan bermotor, akibat konsumen yang terus semakin dapat menjangkau biaya kepemilikan kendaraan bermotor. Mengapa begitu? Lagi-lagi, manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu menginginkan sesuatu. Konsekuensinya? Semakin suatu sumber daya terjangkau, semakin banyak orang lah yang pakai. Yang berarti semakin cepat pula habisnya.

Penggunaan sumber daya terbarukan pun memiliki banyak batasan, di antaranya batasan jarak ruang dari pusat sumber daya menuju konsumen, contohnya, penggunaan energi matahari, sangat terbatas pada daerah yang setidaknya sering disinari matahari, kan? Daerah seperti ini misalnya gurun pasir, biasanya sangat jauh dari pusat kota di mana output dari sumber daya tersebut paling banyak digunakan.

Belum lagi, diperparah dengan konflik internasional di sana-sini, selalu memperparah krisis sumber daya kita.

Pada titik ini, saya bisa saja berpikir pesimis bahwa memang sudah kodratnya kita akan punah sebentar lagi karena krisis sumber daya, dan yang harus kita lakukan yakni tinggal menikmati sisa hidup kita, bahagia, lalu mati.

Tapi, pertanyaan-pertanyaan saya di atas, justru menghasilkan pertanyaan, yang, sejauh yg saya cari dan amati, belum pernah dijawab oleh filsuf manapun: Sebenarnya, tujuan kita sebagai manusia secara kolektif itu apa sih?

Yang saya maksud kolektif secara harafiah lhoh ya, kalau kita secara individual kan sudah terjawab: beda-beda. Ada yang nihilis, beranggapan bahwa kita nggak punya tujuan apa2. Ada yang tujuan hidupnya berpegang pada agamanya: misalnya umat buddhisme bertujuan mencapai nirvana, umat islam bertujuan mencapai surga, ada yang tidak beragama tapi intinya tujuan hidupnya adalah berbuat baik terhadap sesama, dll.

Bukan, bukan tujuan hidup individu seperti itu yang saya pertanyakan. Tapi tujuan akhir manusia secara kolektif; keseluruhan.

Bukan juga tujuan hidup yang saya maksud antara lain 'memajukan bangsa dan negara', mewujudkan kesetaraan dan keadilan sosial, dan semacamnya. Tujuan semacam itu, adalah suatu tujuan yang tidak memiliki garis finish, karena pada dasarnya setiap negara berkompetisi untuk mewujudkannya, yang mana pada akhirnya menghasilkan pihak yang menang dan yang kalah.

Maka, dengan argumen-argumen saya tadi, bisa kita sintesiskan bahwa:

Keterbatasan sumber daya adalah akar permasalahan seluruh manusia.

Dan oleh sebab itu, jawaban mudah dari tujuan manusia secara kolektif adalah:
Menghilangkan keterbatasan sumber daya.

Tapi, gimana caranya?

Bukan, bukan dengan mengkonservasi sumber daya, karena konservasi sumber daya ujung-ujungnya juga bikin konflik, dan ujung-ujungnya, manusia yang harus menahan rasa keinginannya sebagai makhluk ekonomi. Bukan juga dengan mencari sumber daya baru.

Jadi gimana???
Saya sendiri juga nggak tahu, dan saya rasa untuk saat ini tidak ada manusia yang tahu bagaimana cara menghilangkan keterbatasan sumber daya. Itu lah sebabnya saya muncul dengan ide diadakannya universal human goal ini, supaya ke depannya manusia memiliki tujuan bersama yang jelas, saling bersinergi untuk mencapai ketidakterbatasan sumber daya.

Saya sendiri berpikir, bahwa untuk menghilangkan keterbatasan sumber daya, yang kita lakukan adalah membangun sebuah realitas baru, sebuah dunia baru di mana sumber daya bisa jadi tidak terbatas, dan yang paling mendekati hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah realitas virtual (virtual reality).

Mengapa virtual reality?

Seperti yang kita tahu, menurut penganut paham empirisme dan materialisme, realitas adalah suatu hal yang bisa kita rasakan dan alami dengan pancaindera kita. Maka, dengan mengembangkan teknologi yang dapat mengintegrasikan kelima indera tersebut dalam dimensi ruang dan waktu yang sama, akan terciptalah realitas virtual.

Nah, sebagai generasi yang hidup di era pesatnya perkembangan teknologi digital, kita tentu tahu bahwa sesuatu yang digital, itu tidak terbatas. Dalam artian suatu data bisa dengan mudah kita perbanyak. Maka, dengan berpindahnya realitas kita ke realitas virtual yang dibangun oleh teknologi digital, kita tidak membutuhkan sumber daya lagi. Jadi, keinginan kita sebagai makhluk ekonomi yang tidak terbatas, dapat terwujud hanya dengan memerintah sistem.

Contoh gambarannya kira-kira begini:
A seorang manusia. Manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu menginginkan sesuatu, misalnya A sedang ingin makan nasi goreng. Untuk memenuhi keinginannya, A membutuhkan sumber daya: nasi, minyak, ayam, garam, telur, penggorengan, dan api. Tetapi, dengan realitas virtual, A tinggal masuk ke dalam dunia digital dan memerintah sistem untuk memberikannya nasi goreng. Nasi goreng ini merupakan hasil copy paste dari nasi goreng yang dibuat seseorang lalu dia rekam seluruh unsur inderawinya: gambar, rasa, suara, bentuk, dan aromanya. Dengan demikian, A telah memenuhi keinginannya tanpa menggunakan sumber daya yang sebenarnya.

Kedengarannya sepele, ya? Tapi bagaimana kalau pengalaman makan nasi goreng yang diinginkan A itu kita ganti dengan hal seru lainnya yang kalau di dunia nyata membutuhkan sumber daya yang masif; seperti sky diving, menjelajahi dunia bawah laut, merasakan zero gravity, dsb. Whoa! Maka virtual reality dapat memenuhi apapun keinginan manusia tanpa membutuhkan sumber daya, bukan?!

Sayangnya, untuk saat ini, perkembangan teknologi digital kita memang mandek hanya dalam tataran audio, visual, dan gerak saja. Teknologi penciuman dan perasa digital masih sangat jauh dari kata layak untuk bisa dibilang sebagai realitas virtual. Keterbatasan penyimpanan data juga menjadi tembok tebal penghalang pengembangan realitas virtual. Menyimpan data gambar dan suara saja sudah bikin handphone dan laptop kita jadi lemot, gimana coba kalo kita menyimpan data aroma, bentuk, dan rasa?

Yang jadi berita baik adalah, akhir-akhir ini saya baru membaca tentang teknologi quantum computing. Para Ilmuwan komputer saat ini tengah mengembangkan jenis komputer yang berbeda dengan komputer konvensional. Komputer kuantum ini gampangnya mereplikasi cara alam (dengan kata lain: realitas) dalam memproses fenomena alam. Misalnya: bagaimana pepohonan yang terpapar sinar matahari dapat menghasilkan bayangan. Caranya? Dengan memanfaatkan qubit (versi modifikasi dari bit) yang tidak hanya terdiri dari binary 0 dan 1 saja tapi juga tengah-tengahnya; antara 0 dan 1. Hasilnya? Proses kalkulasinya jauh lebih cepat, ya seperti proses kalkulasi dalam dunia kita. Quantum computing ini bisa jadi merupakan kunci yang kita butuhkan untuk mengembangkan realitas virtual. Semoga.

Realitas virtual sendiri, sebagai solusi atas keterbatasan sumber daya pun, bisa dibilang paradoks ya. Mengingat untuk menjalankan sistem realitas virtual juga dibutuhkan energi yang masif. Tapi setidaknya, keterbatasan jarak ruang dari sumber energi terbarukan menuju pusat digunakannya energi dapat terpangkas dengan teknologi internet. Jadi, bagi saya, realitas virtual adalah suatu hal yang paling feasible yang dapat dijadikan sebagai agenda global dalam mencapai ketidakterbatasan sumber daya.

Bukan tidak mungkin, kalau kita sebagai manusia benar-benar bekerjasama untuk mengembangkan teknologi realitas virtual, kita dapat benar-benar mencapai ketidakterbatasan sumber daya, yang dapat menghilangkan segala konflik di dunia. Kesetaraan tercapai karena sumber daya tak terbatas, keadilan tercapai karena motif utama tindak kriminal; keterbatasan sumber daya, telah tereliminasi. Semua orang akhirnya dapat berdamai satu sama lain. Semua manusia akhirnya dapat menyadari bahwa kekayaan, kemewahan, waktu luang, serta prokreasi tidak ada artinya dibandingkan kebersamaan dan pengaktualisasian diri.

Namun demikian, bukan pula tidak mungkin kalau dalam proses maupun hasil akhir dari usaha manusia mewujudkan tujuan kolektifnya, akan terdapat variabel-variabel baru yang patut diperhitungkan juga.

[DISCLAIMER: Artikel ini hanyalah buah keisengan saya dalam berpikir secara bebas, kontennya bisa jadi menabrak norma-norma dalam masyarakat, maka yang perlu dicatat adalah, tulisan ini bebas dari norma apapun, sehingga saya tidak menerima kritik normatif, terima kasih.]

Sedikit Life Update (Sekalian Curhat)



Saya menulis ini dalam keadaan minggu depan ada dua deadline review buku yang belum saya sentuh sama sekali. Maka tulisan ini sengaja saya buat untuk menumbuhkan semangat menulis saya yang benar-benar sudah hampir mati karena setahun lebih saya tidak pernah menulis.

Hampir dua bulan sudah saya tinggal di Kota Paris, Prancis dalam rangka program pertukaran pelajar ke Sciences Po Paris. Hampir dua bulan itu pula saya terus menerus dihantam kenyataan dan keadaan, bahwa; 1. Paris tidak seindah di novel-novel romansa, 2. Penggambaran Paris yang keras dan dingin dalam Edensor-nya Andrea Hirata jauh lebih relevan dengan yang benar2 saya hadapi, 3. Saya benar-benar mengalami pressure dalam banyak segi - nggak cuma dari sisi akademik tapi juga lingkungannya. Am I being overwhelmed? Absolutely.

Dimulai dari awal-awal saya sampai di sini, ada-ada saja hal di luar rencana yang benar-benar mengusik jiwa. Laptop yang rusak total - sehingga harus beli baru, pencarian tempat tinggal yang memakan waktu-jiwa-dan-raga, berurusan dengan administrasi kampus dan kependudukan yang sampah, kena denda hampir 700 ribu rupiah karena tiket kereta saya dikira invalid (padahal ternyata bisa dipake -_-), keseringan salah beli bahan makanan, hampir kena copet di Bus Stop, dimarahin emak2 yang bersih-bersih kamar gara-gara wastafel tersumbat, dimarahin mamang security yg masuk kamar tanpa izin gara-gara pake rice cooker di dalam kamar (yg mana daya watt yg dibutuhkan kecil bgt dibandingin alat-alat lainnya). Iya, di bawah kemegahan Tour Eiffel itu, Paris sama aja lah kaya kota metropolitan lainnya, chaos di mana-mana, high crime rate, administrasi sampah, macet, high selfishness rate (?) dsb dll. Yes, Paris never ceased to piss me off. Mungkin cuma temen-temen yang udah pernah benar-benar tinggal di sini (bukan sebagai turis) yang bisa relate dengan pengalaman saya deh. Ini baru tekanan dari segi lingkungan ya.

Secara akademik, dari minggu pertama hingga masuk minggu ke-6 perkuliahan di sini, saya masih saja berkutat dengan masalah yang sama: language barrier. Iya, saya memang berasal dari program internasional di UGM yang kuliahnya pakai Bahasa Inggris, tapi masalahnya di UGM saya juga nggak pernah bisa dan nggak pernah mau seratus persen paham apa yang disampaikan dosen, karena menurut saya terkadang ada materi yang nggak worth it buat benar-benar dipahami. Di Sciences Po, nggak bisa seperti itu. Saya harus siap kapan aja kalau tiba-tiba dosen nunjuk saya buat mengulang sesuatu, atau tiba-tiba diadakan diskusi atau debate dadakan. Kalau nggak siap karena nggak paham dengan apa yang sudah didiskusikan dosen dan temen-temen sekelas (atau bahkan belum baca materinya), hanya ada satu kata yang bisa mendeskripsikannya: Mampus!

Untuk mata kuliah dengan bahasa yang cukup ringan dan sudah sedikit saya kuasai seperti mata kuliah Agriculture & Food Security, serta Disability Studies, masih oke lah. Tapi sekalinya dihadapkan dengan Political Philosophy dan Personalization of Politics, yang mana banyak sekali kosakata-kosakata trivial dan idiom aneh2 yang digunakan, yang diperparah dengan banyaknya mahasiswa native english speakers yang ngomongnya  lebih cepat dari Eminem, saya di kelas cuma bisa sok2an stay cool sambil manggut-manggut dan senyum-senyum; biar keliatan paham padahal sama sekali enggak.

Tanpa disengaja juga, saya dapat jadwal presentasi di pertemuan akhir-akhir pada hampir semua matkul. Melihat teman-teman saya yang native english speakers duluan presentasi, saya cuma bisa mengapresiasi keindahan cara bicaranya; berasa lagi nonton Netflix tapi live. Paham sama substansi presentasinya? Enggak. Nol besar. Separah itu Bahasa Inggris saya yang memang lolos ke Sciences Po karena Tes IELTS yang sama sekali nggak valid (saya dapat 6.5 untuk poin speaking padahal saya ada banyak kesalahan pronounciation).

Entah apa yang membuat saya seperti ini. 2 bulan terakhir ini fighting spirit saya benar-benar nol, bahkan minus. Selalu ingin hal-hal dimudahkan padahal sendirinya juga paham kalo 'lo aja yang pemalas sih sebenernya'. Mau beranjak dari kamar buat jalan-jalan aja males. Sehari-hari kalo nggak ada kuliah ya cuma main game, nonton film di laptop, scrolling timeline. Repeat. My inner introversion bener-bener menjadi-jadi semenjak saya tinggal di Paris.

Minggu ini, untuk pertama kalinya Professor saya pada kuliah Political Philosophy pamit pulang duluan, waktu kuliah yang tersisa diganti dengan pengajuan aspirasi ke ketua kelas. Entah habis keracunan apa, saya, dengan overconfident, disgracefully asking all my classmates to slow down a little bit when discussing in class because i couldn't kept up with their discussions. Tentu saja, nggak ada yang suka dengan permintaan saya. Mas ketua kelas bahkan seusai kelas mendatangi saya dan bilang "It's not us that should slow our speech down, it's you that should learn english more. Dang! That moment I realized that i was idiotic and i started to apologize to the other classmates, and surprisingly, they tried to comfort me and they were all emphatizing me. They even offered me their notes for the class and gave some advices. Still, they won't slow down their speech, and now I think it is perfectly fine for me. Just like what President Kennedy said, "Don't pray for an easy life, Pray for becoming a stronger man."

Terkait tekanan lingkungan, kebetulan minggu lalu saya mengikuti acara workshop dan talk show yang diselenggarakan teman-teman PPI Prancis, dan nggak biasanya, saya nungguin bintang tamunya sampai malam (padahal acaranya dari pagi) yang sebenarnya cukup asing buat saya, yaitu Kak Gita Savitri Devi atau lebih populer dipanggil Gitasav. Here is the thing, saya nggak pernah ngefans dengan selebgram, youtuber, influencer, atau apapun istilahnya itu. Basically saya memang suka skeptis dengan orang yang baru dikenal. Tapi sekalinya ngefans, saya bisa tahu A-Z nya mereka. Aneh, gaya bicara Kak Gita yang nyablak (yang beda 180 derajat dari yang saya bayangkan sebelumnya) dalam Talk Show malam itu malah membuat saya benar-benar terkesan. Background kepribadian kami yang hampir sama juga membuat saya bisa relate dengan cerita-ceritanya. Seusai acara saya sempat ngobrol sebentar tentang musik dengan Kak Gita dan suaminya, Kak Paul. Pertemuan yang sengaja-tidak sengaja yang berkesan itu, benar-benar membuat saya penasaran dengan segala hal tentang mereka berdua. Sampai-sampai saya download pdf bajakannya buku tulisan Kak Gita - Rentang Kisah (kalo Kak Gita baca ini boleh kirimin no. rekening yak aku bayar seharga versi cetaknya deh hehehe). And guess what? Saya yang nggak pernah bisa baca lama-lama malah tenggelam dalam tulisannya dan buku itu habis dalam satu kali duduk! Gila, orang ini benar-benar paham bagaimana cara menulis tulisan panjang dengan efisien dan nggak ngebosenin!

Jadi apa sih yang saya suka dari buku Rentang Kisah ini? Pertama, saya merasa sangat relatable. Kak Gita menceritakan how she behave as an introvert, bagaimana ia merasa being left behind oleh teman-teman SMA nya yang udah mapan duluan,  bagaimana proses adaptasi di negeri orang, dan lain sebagainya. Saya sekarang benar-benar mengerti bahwa di balik kesuksesan orang-orang yang kita anggap hits, terkenal, selebgram, influencer dll itu, terdapat usaha dan doa yang luar biasa besarnya, yang tidak pernah saya pikirkan.

Ya, begitu lah sedikit tulisan saya. At least dengan mempublikasikan tulisan acak-acakan ini, saya bisa dapat sedikit morale boost buat nulis Book Review, semoga. Dan semoga saya tidak menjadi pemalas lagi, because slowly but surely, laziness kills.

Bayar Pajak Awan Kinton ke Ditjen Pajak RI


Ditjen Pajak RI

Pajak adalah momok menakutkan bagi sebagian besar orang. Betapa tidak? Uang hasil kerja keras kita harus disisihkan sebagian untuk negara. Iya kalau uangnya memang benar-benar digunakan untuk pembangunan. Lha kalau ternyata disikat para mafia bagaimana? Hehehe. Kompleksnya proses pembayaran pajak serta image para pegawai pajak yang menyeramkan pun disinyalir sebagai salah satu alasan terkuat mengapa para wajib pajak terlalu malas untuk membayar pajak.
Direktorat Jendral Pajak Republik Indonesia (DJP) tampaknya telah menyadari masalah ini. Bagaimana mungkin target pendapatan negara dari pajak dapat terpenuhi jika para wajib pajak saja terlalu malas diribetkan oleh segala birokrasi perpajakan? Menariknya, inovasi yang dilakukan DJP untuk mengatasi masalah tersebut tidak hanya membangun sistem bayar pajak ‘online’ ataupun dengan ‘sosialisasi’ mahal seperti yang kerap latah dilakukan oleh lembaga sektor publik lainnya.
Daripada mengikuti jejak lembaga lain, DJP dengan berani melawan budaya lama instansi pemerintah yang terkesan kaku dan rumit dengan mengganti bahasa komunikasi social media marketingnya menjadi lebih simple, fun, dan wajib pajak-friendly.

Apa yang dilakukan DJP ini adalah adaptasi dari metode pemasaran bisnis yang disebut Experiential Connection. Experiential Connection adalah suatu hubungan timbal balik yang terjadi antara suatu instansi dengan pelanggan atau pengguna jasanya. Experiential Connection digunakan untuk mengantarkan pengalaman personal seseorang yang berinteraksi langsung dengan suatu instansi. Istilah ini pernah digunakan oleh seorang marketer dunia asal Indonesia, Hermawan Kartajaya, dalam bukunya WOW Marketing, untuk menjelaskan apa yang dilakukan Coca-cola dahulu dalam menumbuhkan intimacy dengan pelanggannya. Coca-cola adalah salah satu brand pertama yang membalas keluh-kesah pelanggan di Twitter. Hal ini patut diapresiasi karena banyak brand lain yang terkesan masa bodoh dengan feedback pelanggan di media sosial dan kebanyakan brand cenderung menggunakan media sosial sebagai media untuk berkomunikasi satu arah. Apa yang dilakukan Coca-cola ini membangun antusiasme dan kedekatan pelanggan dengan sebuah instansi. Hal yang sama tampak sedang diupayakan oleh DJP dengan tujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat akan perpajakan.

Hasilnya? Memang belum dapat kita rasakan secara langsung, tapi setidaknya pada bulan Agustus ini, pencapaian pajak terhadap target meningkat hingga 7,5 persen lebih tinggi dari tahun lalu. Terlepas dari hal tersebut, efek jangka panjangnya lah yang menjadi penting. Para calon wajib pajak seperti kita yang telah berinteraksi langsung dengan Taxmin (sebutan untuk admin Twitter DJP) akan jadi lebih melek pajak.

Tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun, dengan cukup mengganti cara berkomunikasi saja, DJP sudah mampu melangkah selangkah lebih maju menuju tujuannya.

Entah bagaimanapun outcomenya nanti, upaya DJP patut diacungi jempol. Jarang sekali lembaga pemerintahan melakukan hal seberani ini untuk breaking the norms. Harapan saya ke depan, akan nada instansi-instansi pemerintah lain yang turut berinovasi dalam melayani kebutuhan masyarakat, bukan hanya membuat sistem online atau sosialisasi yang tidak jelas, yang tujuannya hanya demi menghamburkan anggaran.

** Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buletin Reformedia edisi Bulan Oktober 2017


Mahasiswa UGM: Bukan Calon Menantu Idaman


[Disclaimer] Saya menulis artikel ini untuk memberikan point of view yang berbeda kepada adik-adik kelas XII SMA yang hendak meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, terutama di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Segala yang tertulis di sini hanya berdasarkan pengalaman saya selama enam bulan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di UGM, sehingga pasti terdapat kesalahan di sana-sini. Oleh karena itu, jika ada yang perlu dikoreksi harap tuliskan pada kolom komentar. Terima kasih.
Resmi sudah saya menjadi mahasiswa di kampus yang katanya nomor satu se-Indonesia ini. Yep, Universitas Gadjah Mada. Sangat terasa enam bulan telah berlalu semenjak saya memperoleh titel mahasiswa baru. Ya, bukannya tidak terasa, karena hari-hari saya selama di kampus terasa sangat lama, mungkin saking banyaknya kegiatan kampus yang saya ikuti.

Sampai sekarang, saya masih selalu mengagumi kehidupan mahasiswa di UGM, sebab segala macam ekspektasi saya terhadap kehidupan di kampus ini, dengan kenyataannya hampir selalu bertolak belakang, dan kehidupan kampus di UGM selalu berhasil memutarbalik perspektif saya akan banyak hal.

Pada awal sebelum masuk kuliah, saya harus menjalani kegiatan semacam ospek yang diberi nama PPSMB. Dengan tugas-tugas dan atribut-atribut yang sebegitu banyak, serta berbekal pengalaman sebagai anggota tonti/paskibra di SMA yang telah terlatih dibentak-bentak dan diintimidasi, saya berekspektasi bahwa PPSMB akan sangat menyeramkan dibandingkan ospek atau pelatihan-pelatihan tonti di SMA yang tidak ada apa-apanya. Namun demikian, setelah menjalani PPSMB, ternyata saya benar! PPSMB memang sangat menyeramkan. Entah siapa yang memiliki ide out-of-the-box yang sangat menyeramkan ini. Daripada ikut-ikutan kampus lain yang melaksanakan ospek dengan penuh marabahaya, intimidasi dan penindasan, UGM dengan menyeramkan mampu memutarbalik anggapan saya bahwa pembentukan sifat-sifat baik dan solidaritas antar sesama hanya dapat dilakukan melalui represi dan penindasan. Begitulah PPSMB. Tanpa kekerasan, sedikitpun. Baik yang verbal maupun non-verbal. Sangat menyeramkan.

Ekspektasi saya terhadap kehidupan mahasiswa UGM berdasarkan cerita-cerita yang beredar di masyarakat, akan para mahasiswanya yang cerdas, progresif, alim, rajin mengaji, suka menabung, tidak sombong, dan taat pada perintah agama, juga seketika luntur tak bersisa segera setelah beberapa hari saya masuk kuliah. Bukan, mahasiswa UGM bukanlah seperti yang ada dalam dongeng-dongeng yang beredar dalam masyarakat. Mahasiswa-mahasiswi di sini sedikit-banyak sama saja dengan mahasiswa-mahasiswi di universitas lain. Ada mahasiswa yang progresif, kritis, ada pula yang apatis. Ada mahasiswa yang tiap jam makan siang olahraga hisap-menghisap tembakau di sudut-sudut taman kampus, ada pula yang nongkrong di musala. Ada mahasiswa yang tiap malam sibuk membaca buku-buku filsafat yang berat ditemani anggur merah, ada mahasiswa yang hampir tiap malam party, ada mahasiswa yang tiap malam main game di rumah atau di kos masing-masing, ada pula yang tiap malam masih sibuk mengurusi organisasinya atau UKM-nya, dan lain-lain, dan sebagainya.

Jadi tolong berhenti mendiskriminasi mahasiswa UGM sebagai calon menantu idaman, sebab sejujurnya kami sama saja dengan mahasiswa-mahasiswi dari kampus lain, dan sifat-sifat kami pun berbeda-beda layaknya manusia biasa. Tidak semua dari kami memenuhi kriteria sebagai menantu idaman, saya contohnya. Hehehe.

Saya sendiri merasa bahwa mahasiswa UGM lebih pantas didiskriminasi sebagai mahasiswa-mahasiswi yang 'bandel'. Menurut saya, para mahasiswa UGM sangat memenuhi kriteria untuk diberi label 'bandel'. Bagaimana tidak? Hampir setiap saat selalu ada wacana perubahan struktural dalam setiap elemen-elemen kampus dan tidak sedikit juga yang akhirnya terealisasikan. Bagaimana mungkin perubahan demi perubahan yang sangat dinamis itu selalu terjadi di dalam kampus jika para mahasiswanya bersikap penurut? Tentu saja perubahan selalu ada ketika orang-orang bandel berontak, ogah mengikuti aturan yang tidak sesuai dengan visi mereka.

Baru saja saya membaca artikel yang sangat menarik yang ditulis oleh seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan di sini. Terdapat fakta yang sangat mengejutkan bagi saya, bahwa dalam himne UGM tidak terdapat syair yang menyatakan keinginan untuk membuat UGM jaya. Yang ada hanya syair tentang kejayaan Indonesia dan kejayaan Nusantara. Himne tersebut seharusnya merepresentasikan visi para pendirinya dahulu. Itu berarti UGM pada awal pendiriannya memang dimaksudkan untuk mendidik para calon pemimpin bangsa, untuk bersama-sama membangun Indonesia yang jaya. Bukan sekadar untuk berkompetisi menjadi perguruan tinggi nomor satu di Indonesia.

Untuk itu, saya mengajak adik-adik kelas XII yang sebentar lagi akan meninggalkan bangku sekolah dan berniat menjadi mahasiswa UGM untuk tidak memilih UGM, jika orientasimu hanya untuk mendapatkan jas berwarna karung goni, atau hanya untuk mendapatkan label diskriminatif berupa 'menantu idaman'. Jangan memilih UGM hanya karena asumsi bahwa lulusan UGM mudah mendapatkan pekerjaan. Jangan memilih UGM jika kamu takut perubahan. Jangan memilih UGM jika kamu tidak bisa menerima perbedaan, serta jangan pula memilih UGM jika ingin hidupmu aman, tentram, dan damai.

Diterima menjadi mahasiswa UGM adalah sebuah kebanggaan.....awalnya. Namun setelah dipikir-pikir lagi, menjadi mahasiswa UGM sama saja dengan secara tidak langsung mengemban amanah yang sangat berat dari rakyat Indonesia untuk membenahi Indonesia selepas lulus nanti. Bayangkan dari ratusan ribu pendaftar, hanya sekitar sembilan ribu mahasiswa baru yang diterima. Bayangkan uang kuliahmu nanti yang disubsidi oleh pajak rakyat Indonesia. Bayangkan betapa bersalahnya kita terhadap rakyat Indonesia jika kita mengkorupsi uang rakyat untuk kuliah di UGM demi kepentingan diri sendiri tanpa peka terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia.

Menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada berarti harus siap dengan segala konsekuensinya, sebab cita-cita UGM yang hakiki adalah untuk mendidik para calon pemimpin bangsa. Bukan sekadar calon menantu idaman.