Sedikit Life Update (Sekalian Curhat)
Saya menulis ini dalam keadaan minggu depan ada dua deadline review buku yang belum saya sentuh sama sekali. Maka tulisan ini sengaja saya buat untuk menumbuhkan semangat menulis saya yang benar-benar sudah hampir mati karena setahun lebih saya tidak pernah menulis.
Hampir dua bulan sudah saya tinggal di Kota Paris, Prancis dalam rangka program pertukaran pelajar ke Sciences Po Paris. Hampir dua bulan itu pula saya terus menerus dihantam kenyataan dan keadaan, bahwa; 1. Paris tidak seindah di novel-novel romansa, 2. Penggambaran Paris yang keras dan dingin dalam Edensor-nya Andrea Hirata jauh lebih relevan dengan yang benar2 saya hadapi, 3. Saya benar-benar mengalami pressure dalam banyak segi - nggak cuma dari sisi akademik tapi juga lingkungannya. Am I being overwhelmed? Absolutely.
Dimulai dari awal-awal saya sampai di sini, ada-ada saja hal di luar rencana yang benar-benar mengusik jiwa. Laptop yang rusak total - sehingga harus beli baru, pencarian tempat tinggal yang memakan waktu-jiwa-dan-raga, berurusan dengan administrasi kampus dan kependudukan yang sampah, kena denda hampir 700 ribu rupiah karena tiket kereta saya dikira invalid (padahal ternyata bisa dipake -_-), keseringan salah beli bahan makanan, hampir kena copet di Bus Stop, dimarahin emak2 yang bersih-bersih kamar gara-gara wastafel tersumbat, dimarahin mamang security yg masuk kamar tanpa izin gara-gara pake rice cooker di dalam kamar (yg mana daya watt yg dibutuhkan kecil bgt dibandingin alat-alat lainnya). Iya, di bawah kemegahan Tour Eiffel itu, Paris sama aja lah kaya kota metropolitan lainnya, chaos di mana-mana, high crime rate, administrasi sampah, macet, high selfishness rate (?) dsb dll. Yes, Paris never ceased to piss me off. Mungkin cuma temen-temen yang udah pernah benar-benar tinggal di sini (bukan sebagai turis) yang bisa relate dengan pengalaman saya deh. Ini baru tekanan dari segi lingkungan ya.
Secara akademik, dari minggu pertama hingga masuk minggu ke-6 perkuliahan di sini, saya masih saja berkutat dengan masalah yang sama: language barrier. Iya, saya memang berasal dari program internasional di UGM yang kuliahnya pakai Bahasa Inggris, tapi masalahnya di UGM saya juga nggak pernah bisa dan nggak pernah mau seratus persen paham apa yang disampaikan dosen, karena menurut saya terkadang ada materi yang nggak worth it buat benar-benar dipahami. Di Sciences Po, nggak bisa seperti itu. Saya harus siap kapan aja kalau tiba-tiba dosen nunjuk saya buat mengulang sesuatu, atau tiba-tiba diadakan diskusi atau debate dadakan. Kalau nggak siap karena nggak paham dengan apa yang sudah didiskusikan dosen dan temen-temen sekelas (atau bahkan belum baca materinya), hanya ada satu kata yang bisa mendeskripsikannya: Mampus!
Untuk mata kuliah dengan bahasa yang cukup ringan dan sudah sedikit saya kuasai seperti mata kuliah Agriculture & Food Security, serta Disability Studies, masih oke lah. Tapi sekalinya dihadapkan dengan Political Philosophy dan Personalization of Politics, yang mana banyak sekali kosakata-kosakata trivial dan idiom aneh2 yang digunakan, yang diperparah dengan banyaknya mahasiswa native english speakers yang ngomongnya lebih cepat dari Eminem, saya di kelas cuma bisa sok2an stay cool sambil manggut-manggut dan senyum-senyum; biar keliatan paham padahal sama sekali enggak.
Tanpa disengaja juga, saya dapat jadwal presentasi di pertemuan akhir-akhir pada hampir semua matkul. Melihat teman-teman saya yang native english speakers duluan presentasi, saya cuma bisa mengapresiasi keindahan cara bicaranya; berasa lagi nonton Netflix tapi live. Paham sama substansi presentasinya? Enggak. Nol besar. Separah itu Bahasa Inggris saya yang memang lolos ke Sciences Po karena Tes IELTS yang sama sekali nggak valid (saya dapat 6.5 untuk poin speaking padahal saya ada banyak kesalahan pronounciation).
Entah apa yang membuat saya seperti ini. 2 bulan terakhir ini fighting spirit saya benar-benar nol, bahkan minus. Selalu ingin hal-hal dimudahkan padahal sendirinya juga paham kalo 'lo aja yang pemalas sih sebenernya'. Mau beranjak dari kamar buat jalan-jalan aja males. Sehari-hari kalo nggak ada kuliah ya cuma main game, nonton film di laptop, scrolling timeline. Repeat. My inner introversion bener-bener menjadi-jadi semenjak saya tinggal di Paris.
Minggu ini, untuk pertama kalinya Professor saya pada kuliah Political Philosophy pamit pulang duluan, waktu kuliah yang tersisa diganti dengan pengajuan aspirasi ke ketua kelas. Entah habis keracunan apa, saya, dengan overconfident, disgracefully asking all my classmates to slow down a little bit when discussing in class because i couldn't kept up with their discussions. Tentu saja, nggak ada yang suka dengan permintaan saya. Mas ketua kelas bahkan seusai kelas mendatangi saya dan bilang "It's not us that should slow our speech down, it's you that should learn english more. Dang! That moment I realized that i was idiotic and i started to apologize to the other classmates, and surprisingly, they tried to comfort me and they were all emphatizing me. They even offered me their notes for the class and gave some advices. Still, they won't slow down their speech, and now I think it is perfectly fine for me. Just like what President Kennedy said, "Don't pray for an easy life, Pray for becoming a stronger man."
Terkait tekanan lingkungan, kebetulan minggu lalu saya mengikuti acara workshop dan talk show yang diselenggarakan teman-teman PPI Prancis, dan nggak biasanya, saya nungguin bintang tamunya sampai malam (padahal acaranya dari pagi) yang sebenarnya cukup asing buat saya, yaitu Kak Gita Savitri Devi atau lebih populer dipanggil Gitasav. Here is the thing, saya nggak pernah ngefans dengan selebgram, youtuber, influencer, atau apapun istilahnya itu. Basically saya memang suka skeptis dengan orang yang baru dikenal. Tapi sekalinya ngefans, saya bisa tahu A-Z nya mereka. Aneh, gaya bicara Kak Gita yang nyablak (yang beda 180 derajat dari yang saya bayangkan sebelumnya) dalam Talk Show malam itu malah membuat saya benar-benar terkesan. Background kepribadian kami yang hampir sama juga membuat saya bisa relate dengan cerita-ceritanya. Seusai acara saya sempat ngobrol sebentar tentang musik dengan Kak Gita dan suaminya, Kak Paul. Pertemuan yang sengaja-tidak sengaja yang berkesan itu, benar-benar membuat saya penasaran dengan segala hal tentang mereka berdua. Sampai-sampai saya download pdf bajakannya buku tulisan Kak Gita - Rentang Kisah (kalo Kak Gita baca ini boleh kirimin no. rekening yak aku bayar seharga versi cetaknya deh hehehe). And guess what? Saya yang nggak pernah bisa baca lama-lama malah tenggelam dalam tulisannya dan buku itu habis dalam satu kali duduk! Gila, orang ini benar-benar paham bagaimana cara menulis tulisan panjang dengan efisien dan nggak ngebosenin!
Jadi apa sih yang saya suka dari buku Rentang Kisah ini? Pertama, saya merasa sangat relatable. Kak Gita menceritakan how she behave as an introvert, bagaimana ia merasa being left behind oleh teman-teman SMA nya yang udah mapan duluan, bagaimana proses adaptasi di negeri orang, dan lain sebagainya. Saya sekarang benar-benar mengerti bahwa di balik kesuksesan orang-orang yang kita anggap hits, terkenal, selebgram, influencer dll itu, terdapat usaha dan doa yang luar biasa besarnya, yang tidak pernah saya pikirkan.
Ya, begitu lah sedikit tulisan saya. At least dengan mempublikasikan tulisan acak-acakan ini, saya bisa dapat sedikit morale boost buat nulis Book Review, semoga. Dan semoga saya tidak menjadi pemalas lagi, because slowly but surely, laziness kills.


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun