Curhat Kepada Bapak Ibu Guru

11:12 PM Terra Qoriawan 0 Comments

soe hok gie, guru indonesia, pendidikan

Hampir dua belas tahun saya duduk. Duduk di balik meja kayu. Setiap hari mendengarkan perkataan guru. Ada guru yang sangat bijaksana, terdapat pula yang jenaka. Tapi yang paling banyak: guru yang sok tahu, sok maha tahu, sok jenaka dan sok bijaksana. Saya jujur.

Dedikasi guru-guru saya kebanyakan pada kedudukan, uang, dan tunjangan. Segelintir saja yang saya rasa benar-benar mendedikasikan tenaga serta pikirannya kepada kami, siswa-siswi. Suatu waktu guru SMP saya menggerutu di kelas. Beliau 'terpaksa' memberikan tambahan pelajaran, namun tanpa dibayar. Menggambarkan betapa pendidikan di Indonesia hanya semata lapangan pekerjaan.

Pak, Bu, saya ingin mengutarakan perasaan saya yang bisa jadi mewakili perasaan seluruh generasi pengubah bangsa ini. Pak, Bu, mungkin ini menyakitkan bagi bapak ibu. Bagi sebagian lagi mungkin bangga. Pak, Bu, kami paham bapak ibu jauh lebih tua dan jauh lebih berpengalaman dibanding kami. Kami sangat paham bahwa bapak ibu sangat layak dihormati. Kami mengerti mana yang baik dan mana yang buruk.

Pak, Bu, kami tidak bodoh. Kami semuanya cerdas. Hanya saja otak kami, imajinasi kami, daya pikir kami terlalu besar untuk distratifikasikan berdasarkan seberapa banyak kami dapat menghafal rumus dan materi dalam ujian.

Kami semua jenius. Hanya saja kejeniusan kami berbeda-beda. Beberapa orang jenius dalam matematika, sebagian sangat baik dalam ilmu alam, beberapa jenius dalam bahasa, yang lain jenius dalam hal ilmu sosial. Mereka ini sebagian yang beruntung karena akan dianggap pandai oleh bapak ibu guru. Namun yang lainnya lagi sangat tidak beruntung karena mereka jenius dalam olahraga dan seni. Bayangkan kejeniusan mereka di bidang olahraga dan seni hancur begitu saja karena ceramah bapak ibu di kelas yang membodoh-bodohkan mereka dan di kemudian hari tidak pernah mencapai potensi terbesar mereka.

Pak, bu, sekarang sudah tahun 2015. Lihatlah sekeliling. Please, update wawasan anda. Sejujurnya kami tahu jauh lebih banyak mengenai wawasan masa kini dibandingkan bapak dan ibu. Hanya saja kurikulum yang sekarang sudah sangat ketinggalan zaman. Kami bodoh dalam kurikulum yang sekarang karena kami sudah terlalu maju untuk menghafalkan materi-materi pelajaran yang sudah tidak relevan lagi. Dalam hati kami, semangat belajar kami membara, namun tidak dengan mendengar celotehan bapak ibu yang membuat kami sering tertidur di kelas seperti para anggota dewan saat sedang sidang.

Kami sadar kami perlu mempersiapkan masa depan kami untuk dapat bersaing dalam karier. Tapi di atas kertas, jauh di dalam hati, kami tidak menginginkan nilai tinggi melainkan orangtua kami dan bapak ibu guru yang menginginkannya. Kami, siswa-siswi Indonesia, belajar karena rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk meraih masa depan yang baik. Kami tidak peduli dengan nilai kami.

Jika kami tidak mengerjakan tugas, itu berarti tugas yang anda berikan tidak menarik bagi kami. Kami tidak malas. Kami hanya mempertanyakan apa gunanya jika kami mengerjakannya?

Jika kami berpakaian tidak rapi, bukan berarti kami tidak disiplin. Itu berarti seragam sekolah tidak stylish dan  kuno. Kami ingin kebebasan dalam berpakaian.

Jika kami membolos, bukan berarti kami tidak akan sukses di masa depan. Bukan berarti kami tidak suka dengan bapak ibu guru. Kami hanya bosan dengan cara anda mengajar yang lebih mirip sipir penjara memperlakukan narapidana. Kami bukan budak anda, yang tiap malam selalu direcoki segala jenis PR (saya tidak yakin PR adalah singkatan dari pekerjaan rumah atau pekerjaan rodi).

"Sekolah seharusnya tidak berbeda dengan seminar atau workshop yang saya kerap berikan. Wong sama-sama bayar kan, harusnya sama-sama menarik dan sama-sama disenangi oleh pesertanya." - Yoris Sebastian
Guru yang baik akan menegur muridnya saat berbuat salah. Guru yang lebih lebih baik menunjukkan kesalahan muridnya saat muridnya berbuat kesalahan. Namun guru yang paling baik memperbaiki kesalahan muridnya.

Pesan spesifik

Kepada guru Bahasa Indonesia, anda tentu tahu jikalau soal-soal Bahasa Indonesia sangat abstrak dan masing-masing pribadi memiliki interpretasi masing-masing dalam menjawabnya. Anda dengan guru Bahasa Indonesia lain saja kerap berbeda pendapat, apalagi dengan para murid. Maka jangan memaksakan pendapat bapak ibu pada kami. Hal itu akan membatasi kami. Kami mempunyai interpretasi masing-masing jadi hormatilah pendapat kami seperti kami menghormati pendapat anda. Memaksakan pendapat anda tidaklah keren, Tidak sepantasnya seorang pengajar melakukan pemaksaan. Tidak ada siswa-siswi yang menghormati anda karena anda memaksakan opini anda.

Kepada guru matematika, anda harus tahu bahwa kami merasa tidak memerlukan mempelajari, matriks, trigonometri, logaritma, kalkulus dan integral. Kami melakukannya karena keterpaksaan. Kami memang membutuhkan matematika, namun dasar saja sudah cukup menurut kami. Tolong hargai kami karena sesungguhnya matematika yang serumit itu di negara-negara maju hanya akan dipelajari di perguruan tinggi.

Kepada guru seni, janganlah anda memaksa siswa menggambar suatu obyek spesifik. Suruh mereka menggambar apa yang ingin mereka gambar. Objek di atas meja atau tema yang bapak ibu tetapkan dalam penilaian sebuah karya terlalu sempit untuk daya imajinasi kami.

Satu yang kami harapkan: kebebasan. Kami menginginkan kebebasan berpendapat, kebebasan berkarya, kebebasan menulis dengan gaya kami. Bukan dengan kaidah dan EYD yang bapak ibu anggap benar.

Kami, generasi reformasi, menolak diperlakukan sewenang-wenang oleh guru. Bagi kami, guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa. Melainkan hanya orang-orang yang sebenarnya tidak memahami hakikat pendidikan, yang memberikan materi dan rumus untuk dihafalkan, lalu memberikan ujian. Bagi kami saat ini guru hanya alat untuk kami mendapat ijazah.

"Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau."-Soe Hok Gie

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun