Solusi Buat Indonesia: Pendidikan Finansial
Yth. Anies Baswedan, Ph.D
serta seluruh staf Kemdikbud dan Disdik
di seluruh daerah di Indonesia
Dengan hormat,
Anjloknya nilai rupiah saat ini menimbulkan kontroversi. Di satu sisi terdapat masyarakat yang berpendapat bahwa bukan rupiah yang melemah, melainkan dollar AS yang menguat. Ada versi yang mengatakan akibat dari depresiasi Yuan Tiong kok, Beberapa versi juga mengatakan anjloknya nilai tukar rupiah akibat pemerintah yang tidak becus menangani ekonomi negara.
Banyak pembahasan dan spekulasi yang beredar, yang akhirnya hanya menjadi perdebatan tanpa penyelesaian. Selain itu, maraknya korupsi, prostitusi, westernisme, dan yang paling konkrit saat ini, konsumerisme, tentu saja akibat dari permasalahan ekonomi klasik. yaitu kebutuhan lebih banyak daripada alat pemuas kebutuhan. Lebih tepatnya lagi, perilaku-perilaku tersebut adalah akibat dari ketidaktahuan/kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan finansial.
Masyarakat Indonesia sekarang rata-rata lebih senang bersekolah tinggi, mencari pekerjaan bagus di BUMN (inilah yang menyebabkan tingginya persaingan pada Tes CPNS) atau bekerja pada perusahaan asing multinasional, menerima slip gaji setiap bulan, lalu membeli apapun yang bisa mereka beli walaupun harus dengan kredit.
Jika rakyat Indonesia memulai wirausaha, mereka juga lebih senang menjadi retailer produk asing dalam bentuk e-commerce atau menjadi sales yang menawarkan keuntungan instan seperti multi level marketing. Setelah memperoleh banyak keuntungan, mereka juga sama dengan pegawai pada kasus pertama, pada akhirnya akan membeli mobil mewah, rumah idaman, barang-barang mewah serta segala yang dapat meningkatkan level stratifikasi sosialnya. Langka sekali ditemukan wirausaha yang benar-benar memproduksi produknya sendiri. Kalaupun ada, bahan bakunya pun didapat dari impor. Jarang sekali terdapat usaha yang memaksimalkan potensi kekayaan alam Indonesia.
Selain itu, kurangnya pengetahuan masyarakat saat ini mengenai perekonomian juga turut memperlambat pembangunan ekonomi. Tidak sedikit orang dewasa yang tidak tahu cara berinvestasi efek. Tidak sedikit orang yang tidak tahu bagaimana cara memulai berinvestasi saham, apa itu penyedia sekuritas, apa itu Indonesia Stock Exchange, tentu saja berakibat pada uang masyarakat Indonesia yang terus-menerus dibelanjakan tanpa berinvestasi. Bagaimana mungkin angka pertumbuhan ekonomi naik apabila rakyat saja tidak memahami konsep ekonomi? Maka saya menyimpulkan akar permasalahan dari rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi: tidak adanya pendidikan finansial di sekolah.
Mengapa finansial? Kita 'kan sudah punya mata pelajaran Ekonomi?
Pertama, mata pelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Pertama porsinya sangat minim karena mapel IPS hanya mendapat jatah 2-3 jam per minggu sementara materinya pun masih terbagi menjadi Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Sejarah.
Kedua, pelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas pada KTSP hanya didapatkan di kelas X saja bagi yang kemudian memilih jurusan IPA. Itupun hanya 2 jam pelajaran per minggu. Lebih lagi, materinya langsung membahas ekonomi makro, bukannya mengajarkan ekonomi aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, pada Kurikulum 2013, siswa kelas X yang memilih jurusan IPA dengan lintas minat selain Ekonomi malah sama sekali tidak mendapat pendidikan Ekonomi.
Keempat, materi Ekonomi dalam silabus saat ini sangat teoretis. Siswa dipaksa menghafal pengertian-pengertian dalam ilmu ekonomi, menghafal teori-teori yang dikemukakan oleh ekonom tertentu dan menghafal materi-materi yang kebanyakan sudah tidak relevan, yang hanya akan muncul saat ulangan dan setelah itu dilupakan.
Satu hal baik dalam mapel Ekonomi adalah pelajaran Akuntansi. Namun demikian, saya rasa Akuntansi pun memerlukan pemutakhiran. Materi Akuntansi yang saat ini dipelajari siswa SMA saat ini sudah terlalu kuno. Mereka membahas pembukuan pada tahun 90-an, sedangkan saat ini pembukuan sudah terotomatisasi menggunakan program komputer. Sifat kuno ini membuat siswa tidak tertarik belajar Akuntansi dan akhirnya, mapel Ekonomi di SMA hanya menjadi waste-of-memory.
Pendidikan finansial yang saya tawarkan bukan tentang menghafalkan materi, latihan mengerjakan soal, ulangan, lalu lupakan. Pendidikan finansial yang saya tawarkan adalah berupa permainan. Permainan aplikatif.
Permainan berupa role-play. Masing-masing siswa SMP/SMA mendapat peran, terdapat siswa yang menjadi investor, ada yang menjadi bankir, ada yang menjadi akuntan publik, dst. Mereka memerankan kasus-kasus ekonomi tertentu. Terdapat juga sesi bermain permainan yang mengandalkan kecerdasan finansial, seperti Monopoly® atau Let's Get Rich. Di sela-sela permainan pengajar akan memberikan informasi dan menjelaskan materi secara komprehensif yang dibutuhkan siswa dalam memecahkan permasalahan riil di dalam permainan dengan suasana yang menyenangkan.
Dengan cara ini, diharapkan siswa mampu menerapkan konsep-konsep ekonomi dan akuntansi yang berhubungan langsung dengan kehidupannya kelak. Siswa tidak akan terjebak dalam utang buruk, tidak lagi tercekik bunga utang rentenir, tidak lagi membeli barang-barang branded impor yang sebenarnya tidak mereka perlukan dan terutama mengurangi sikap konsumerisme.
Saya mengusulkan ide ini karena mendengar Kurikulum Nasional yang sedang dikembangkan Kemdikbud dan pendidikan bela negara yang sedang dikembangkan kemenhan saat ini. Menurut saya, selain budi pekerti, dan patriiotisme, yang lebih penting adalah supaya siswa-siswi Indonesia kelak lebih bijak dalam membelanjakan uang dan senantiasa berproduksi dan menginvestasikan uang mereka.
Dalam merealisasikan hal ini, tentu diperlukan investasi pada APBN 2016 mendatang, serta tenaga pengajar pemuda-pemudi yang berintegritas dan benar-benar memahami konsep-konsep ekonomi, bukan hanya meraba-raba. Dalam hal ini bisa dengan memanfaatkan gerakan Indonesia Mengajar ataupun Turun Tangan yang telah dibangun Bapak Anies. Selain itu, diperlukan developer pengembangan permainan baik fisik maupun elektronik yang akan dipakai dalam pembelajaran di sekolah.
[Baca seri Solusi Buat Indonesia lainnya:


setuju, gunakan games2 kekinian yang relevan buat belajar ekonomi, akuntansi, dsb.. sebetulnya, bermain adalah proses belajar yang dilakukan secara sukarela.. orang2 generasi lama yang melarang anak2nya bermain itu tidak mengerti bahwa setiap generasi punya media belajarnya sendiri.. sistem pendidikan hafalan sampai kapanpun tak akan melahirkan manusia2 pekarya.. bangsa penghafal hanya akan terus2an jadi pengamat sejarah, hafalannya semakin banyak seiring banyaknya gebrakan yang dihasilkan dari bangsa lain.. sudah saatnya kita belajar berbuat, selangkah lebih maju daripada sekedar menghafal, otak bukan sekedar penyimpan data, tapi juga pengolah dan alat cipta.. semoga pendidikan kita segera paham cara mendidik yang lebih baik..
ReplyDelete