Jadi Geek Boleh Aja, Tapi Tetap Wajib Mikir Negoro
"When I was a kid, it was a huge insult to be a geek. Now it's a point of pride in a weird way."–J.J. Abrams
Kata geek adalah istilah gaul untuk orang aneh atau non-mainstream, dengan konotasi yang berbeda mulai dari "seorang ahli komputer atau antusias" sampai dengan "orang yang sangat tertarik pada hobi", dengan makna peyoratif umum dari" orang aneh atau dislikable, terutama orang yang dianggap terlalu intelektual". - dictionary.reference.com
Saya punya banyak teman dan kenalan seorang geek dengan bermacam-macam bidang. Mulai dari yang geek manga & anime Jepang, geek K-pop & K-drama, geek film Hollywood, geek film Asia, geek film indie, geek gaming, geek film, geek novel, geek band indie, geek Android, geek (atau fanboy?) Apple, geek desain grafis, geek basket, geek sepakbola, geek fashion, geek dance, geek beatbox, geek action figure, geek diecast, geek shuffling, geek skateboarding, geek BMX, geek downhill, geek fingerstyle, geek youtube, geek parkour, geek motor, geek mobil, geek Moto GP, geek F1, geek fotografi, sampai yang paling spesifik seperti geek Pokemon, geek Starwars, geek Tamiya, geek Bob Marley, geek Marvel/DC comics, geek Jay-Z / Lil Wayne, dan geek-geek entitas lainnya.
Sah-sah aja kamu mau jadi geek dengan bidang apapun. Tapi..... ada hal menarik yang mau kita bahas di sini.. terdapat suatu homogenitas di antara seluruh bidang geek-geek tersebut. Terdapat satu kesamaan di antara mereka, terutama geek dari Indonesia, yang (ehm) sedikit menyedihkan.
Consuming, much, much, much consuming.
Geek adalah target utama pemasaran suatu produk. Kenapa? Karena bisa dibilang geek adalah diehard consumer suatu brand. Mereka rela membeli keinginan-bukan kebutuhan- walaupun nggak makan seminggu. Geek baik secara sadar ataupun tidak sadar berkeinginan memiliki atau merasakan suatu produk dari sebuah brand yang diminatinya. Mereka juga akan terdorong untuk menjadi pemilik pertama sebuah produk baru. Inilah alasan toko video games di Amerika Serikat dikepung segerombolan geek beberapa hari sebelum penjualan konsol Playstation 4. Mereka berlomba-lomba menjadi pemilik PS4 yang pertama. Menunggu siang dan malam di emperan toko. Mereka inilah geek atau diehard consumer. Dan inilah mengapa kebanyakan geek adalah golongan middle class. Karena mereka spend money pada hal-hal yang memang mereka sukai. Tapi, honestly, kurang bermanfaat.
Salah seorang teman saya adalah geek gaming yang sangat hebat. Dia mampu bermain game dua hari satu malam tanpa makan dan tidur. Dia sangat mengerti seluk-beluk gaming. Dia juga sangat pandai coding dan membuat desain. Saya menyarankan kepadanya membuat rumah produksi game indie-nya sendiri, tapi pada banyak kesempatan ia menolaknya. Ia selalu bilang "saya hanya penikmat game dan tidak pernah tertarik membuatnya". Itulah dasar saya membuat tulisan ini. Memang kalimat itu tidak bisa meng-generalisasikan semua geek di Indonesia. Namun menurut opini saya, kalimat tersebut cukup untuk menjelaskan kegelisahan saya terhadap mayoritas geek di Indonesia.
Di Indonesia terdapat berjuta-juta geek. Dalam lingkungan saya saja sudah terdapat sebanyak yang saya sebutkan di atas. Belum lagi di tempat lainnya.
Sisi positif menjadi geek adalah mereka menjadi lebih passionate dan wawasan mereka dapat menjadi sangat luas. Namun sayangnya di Indonesia, geek hanyalah sebuah komunitas yang dimanfaatkan oleh golongan marketing untuk menjadi pasar utama mereka. Oleh karena itu, geek di Indonesia kebanyakan apatis terhadap permasalahan negerinya. Mereka lebih senang bergembira dengan bidang yang diminatinya dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Padahal, sebenarnya geek-geek Indonesia adalah aset terbesar milik Indonesia. Geek-geek ini tentu sangat berpotensi menjadi stakeholder industri kreatif. Sebenarnya merekalah yang diperlukan dalam exit strategy dari kondisi yang dihadapi negeri ini. Sayangnya trend geek saat ini adalah penyendiri, bekerja sendirian. DIY. Do it yourself. Bukannya bersinergi. DIT. Do it together. Geek cenderung liberalis. Mereka menginginkan hidup tenang, aman, nyaman dan tidak neko-neko. Inilah mengapa geek terlihat sebagai sosok anti-sosial. Padahal sebenarnya mereka tidak anti-sosial. Mereka hanya tidak ingin hidupnya diganggu.
Jadi, apa yang harus dilakukan? Saya rasa untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki geek, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Geek harus memulai dari diri mereka sendiri. Maka saya serukan pada seluruh geek di seluruh Indonesia: Implementasikan dan sinergikan! Kalau kamu seorang pegawai gurem di kantor, tapi juga seorang geek film, sekarang saatnya kamu banting setir! Mulailah ambil sekolah perfilman, kamu bisa jadi sinematograf, bisa jadi sutradara, bisa jadi penulis script, bisa memproduksi film-film indie dan banyak hal lainnya. Kalau kamu seorang guru matematika tapi juga seorang geek Anime, saatnya resign dan melupakan sertifikasi. Kamu bisa ngebuat rumah produksi animasi bersama teman-teman, kamu bisa membuat situs streaming Anime berbayar dengan dubbing Bahasa Indonesia kualitas tinggi. Itu hanya beberapa contoh kecil, saya yakin geek-geek Indonesia punya ide yang jauh lebih keren lagi untuk mengimplementasikan wawasan luas dan kemampuannya untuk bersinergi membangun Indonesia maju.
"Geeks are absolutely weirdos. Unless they who do something useful in the society." – Seseorang di dalam benak saya.


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun