Biasakan Ikuti Nurani, Bukan Mayoritas

10:45 PM Terra Qoriawan 0 Comments

Nurani, mayoritas, diferensiasi

Setiap orang punya pilihannya masing-masing. Ada orang-orang yang selalu mengikuti mayoritas tanpa berdasar nurani. Ada yang mengikuti golongan minoritas padahal ia tidak mengerti esensinya. Ada pula orang-orang yang memilih bersama minoritas karena memang mengikuti nurani dan mengerti esensi. Apa yang terjadi pada orang-orang terakhir yang berada di sekitar kita? Hanya ada tiga kemungkinan: dikucilkan, dibuang atau disayang.

Mengapa harus mengikuti mayoritas jika cara mereka tidak sesuai dengan nurani kita? Mayoritas tidak selalu benar. Mayoritas terlalu abu-abu untuk dianggap sebagai kebenaran. Seperti pada saat kecil dulu, saat bermain bersama teman-teman, ada salah satu teman yang menangis karena dia selalu jadi pemburu (pada hal ini misalnya bermain petak umpat/hide and seek) lalu teman-teman yang lain akan mulai mengolok-oloknya dengan julukan cengeng, lamban atau pecundang. Apa yang kita lakukan sebagai anak-anak? Tentu saja mengikuti teman-teman yang lain bukan? Kita sebagai anak kecil sudah sangat terbiasa mengikuti mayoritas (teman-teman yang mengolok-olok) bukan mengikuti nurani (dengan membela teman yang menangis). Apa hal ini akan terus kita lanjutkan sebagai orang dewasa?

Bahkan tokoh-tokoh agama paling berpengaruh dunia pun tidak pernah mengikuti mayoritas. Bayangkan saja jika Siddharta Gautama mengikuti mayoritas Hindu pada saat itu, tentu Agama Buddha yang penuh ajaran ketenangan, perdamaian dan tanpa stratifikasi sosial tidak akan tercipta. Juga jika Muhammad SAW mengikuti mayoritas yang pada saat itu jahiliyah, mungkin sampai saat ini kaum jahiliyah masih menghuni daratan Saudi Arabia. Pun juga dengan Isa Al-Masih yang menentang mayoritas paganisme di kerajaan Roman pada saat itu melahirkan Agama Kristen.

Bukannya sedari kecil kita selalu diingatkan orangtua agar selalu jujur dan tidak munafik? Kita selalu diajarkan berbuat baik, diajarkan bertahan hidup, diajarkan mandiri, berdikari dan independen. Bukan mengikuti mayoritas. Namun beginilah kita yang telah dididik oleh mayoritas jadi orang-orang yang konservatif, mengabaikan nurani, fanatik terhadap norma, munafik terhadap diri sendiri dan meyakini mentah-mentah apa yang dilakukan pendahulu kita.

Kekuatan mayoritas kini, sudah tak terbendung lagi. Mereka memiliki semua kekuatan (secara kuantitas) untuk menjajah kaum minoritas. Para minoritas itu, dipaksanya mengikuti ajarannya, mendengarkan dakwahnya melalui speaker di komplek-komplek rumah yang terkadang memekakkan telinga. Otak para minoritas dijejali oleh substansi-substansi mayoritas yang sebenarnya merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. Sedangkan sebaliknya para mayoritas tidak membenarkan penjejalan substansi minoritas pada otak mereka.

Maka jangan heran kalau birokrasi bangsa ini, kala ini selalu berpegang pada mayoritas. Politisi konservatif yang ingin semuanya terus mengalir seperti masa bhakti-masa bhakti sebelumnya lebih banyak dipilih karena mereka mengikuti arus mayoritas. Sedangkan penantang arus yang berhati nurani selalu disia-siakan, dibully, dikriminalisasi dan diperkosa oleh rakyat sendiri karena dianggap tidak sesuai dengan norma mayoritas. Jika sudah begini siapa yang disalahkan? Yup. Pemerintah.

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun