Di Balik Kata Mager dan Mahngopo

9:04 PM Terra Qoriawan 0 Comments


Trend anak-anak muda saat ini sangat mudah tersebar melalui media online. Apa yang sedang hits di suatu daerah dapat cepat menyebar ke seluruh nasional, bahkan meng-global. Seperti materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas 4 SD, kita dididik senantiasa memilah-milah mana budaya atau trend yang akan kita ikuti.

Dewasa ini penggunaan istilah mager dan mahngopo berkembang pesat menjadi sebuah kata sakti yang dapat digunakan dalam situasi seperti apapun. Jika diajak bekerjasama dalam proyek, "mager". Diminta menulis sesuatu, "mager". Diajak ikut kegiatan sosial, "mahngopo". Diajak memungut sampah di jalanan, "mager, mahngopo". Sebaliknya bila diajak jalan-jalan, "ayo". Makan-makan, "ok".

Penggunaan kata mager dan mahngopo rupanya telah merasuki sanubari anak muda. Terlalu banyak kawula muda yang secara tidak sadar telah digerogoti tingkat produktivitasnya melalui propaganda penggunaan kedua kata tersebut. Secara tidak langsung penggunaan kata mager dapat berakibat seseorang tidak akan bergerak atau berpindah tempat dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan orang tersebut menyia-nyiakan waktu luang untuk bermalas-malasan. Keduanya memicu sugesti bahwa si pengucap sedang benar-benar lelah dan tidak ingin beraktivitas. Padahal kenyataannya ia memiliki cukup energi. hanya karena sebuah kata ini ia menjadi merasa sangat malas untuk bergerak.

Yang kedua, penggunaan kata mahngopo atau malah ngapain dalam Bahasa Indonesia adalah kata-kata yang membohongi diri sendiri. Biasanya kata ini digunakan ketika penggunanya diajak oleh seseorang mencoba hal-hal baru. Dan alasan penolakan yang paling telak rupanya hanya satu kata: mahngopo. Saya sangat sering mendapat penolakan semacam ini. Biasanya saat saya mendapatkan ide-ide gila untuk sebuah pekerjaan, saya akan bercerita dahulu pada teman-teman terdekat. Lantas saya mengajak mereka bergabung untuk mewujudkan ide tersebut. Nyaris 90% responden menjawab "mahngopo". Saya pun terkadang jika diceritakan suatu ide gila yang benar-benar inovatif tertarik bekerja sama. Namun apa daya terkadang kita terlalu malas (bahkan hanya untuk bergerak); yang akhirnya hanya bisa mengucapkan "mahngopo". Maka disimpulkan bahwa kata mahngopo adalah perwujudan dari rasa malas dan pembohongan terhadap diri sendiri.

Dari kedua kata di atas sebenarnya terdapat nilai-nilai yang patut direfleksikan bahwa: kita sebagai anak muda tidak sepantasnya bermalas-malasan berlarut-larut. Kata-kata sejenis mager dan mahngopo baiknya dihapus dari diksi kita. Mengapa mager untuk kegiatan sosial jika kita punya waktu melihat timeline media sosial yang tiada habis? Kenapa mahngopo untuk aksi lingkungan apabila rela mendaki puncak gunung? Mengapa mager dan mahngopo untuk kegiatan-kegiatan baru dan positif bila seharian hanya terpaku pada layar Liquid Crystal Display menonton film atau drama yang di-copy secara ilegal?

Saya kehabisan pikir. Era sekarang semuanya ingin bermewah-mewahan, ingin mencari kenyamanan, kekayaan, kebanggaan (hal ini sangat nampak dari promo-promo giveaway palsu yang beredar luas yang sebenarnya hanya ulah pihak tak bertanggung jawab untuk meraih banyak traffic.) Namun sayangnya tidak diimbangi dengan inputnya. Saat ini orang hanya senang berdoa dan berangan-angan dengan usaha nol. Bagaimana bisa lebih dari nol jika melakukan apa saja mager dan selalu dianggap mahngopo?

Waktu dalam hidup kita sungguh terlalu singkat sekali untuk mager. Juga sungguh terlalu singkat sekali untuk memutuskan apakah suatu hal mahngopo atau tidak. Maka kita sebagai generasi Indonesia yang baru wajib berproduksi dan berkarya. Tidak ada lagi kata mager dan mahngopo.
“Amateurs sit and wait for inspiration, the rest of us just get up and go to work.” 

― Stephen King

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun