Why NOT Serious!?
Tidak ada yang salah sih dengan lucu-lucuan, lelucon dan media-media komedi semacamnya. Namun di Indonesia seakan-akan lelucon menjadi budaya dan menjadi kebutuhan primer masyarakat. Seakan-akan semua hal yang dilakukan harus lucu, harus menyenangkan. Jika tidak menyenangkan orang akan setengah hati mengerjakannya. Padahal ada banyak kegiatan yang harus dilakukan dengan serius, contohnya upacara bendera. Di luar sana banyak juga orang yang memang sense of humournya rendah dan berakibat sulitnya beradaptasi dengan lingkungannya karena ia dianggap terlalu serius dan membosankan.
Kita memang butuh hiburan, tertawa setiap hari memang suatu kebutuhan. Namun ada waktunya kita butuh situasi serius dan to the point. Jangan semuanya dianggap melucu. Kadang saya juga merasa berbicara serius dengan seorang teman, namun dianggap sedang melucu. Bahkan, pada suatu saat saya sedang berada di luar negeri. Saya diajak berbicara oleh orang di sana, namun karena saya kurang paham dengan maksudnya (karena dulu kemampuan Bahasa Inggris saya belum terlalu baik) saya hanya membalas dengan tertawa. Ternyata hal tersebut justru membuatnya tersinggung dan saya harus meminta maaf dan memohonnya mengulangnya sekali lagi.
Jika sedang menonton film buatan Hollywood atau Eropa dengan genre apapun (bahkan comedy) kita bisa belajar di sana pembicaraan antar tokoh sangat efisien. Tidak bertele-tele dan tanpa basa-basi. Seorang remaja bertemu seorang paman membicarakan mengenai kesehatan atau teknologi adalah hal yang biasa. Di Indonesia jarang sekali yang seperti itu. Pembicaraan harus dimulai dengan lucu-lucuan, basa-basi, kalau tidak lucu akhirnya cuma diam-diaman dan saling melihat Smartphone masing-masing.
Bisa jadi ini dampak yang ditimbulkan oleh kurangnya wawasan umum masyarakat Indonesia. Guru Bahasa saya pernah berucap "Di Inggris dan Australia sana semua orang mengetahui istilah-istilah umum di dalam kamus dan ensiklopedia. Sedang orang Indonesia yang bukan akademisi kebanyakan hanya mengetahui kata-kata dasar. Kita harus merubahnya."
Budaya lelucon, lucu-lucuan dan basa-basi ini nampaknya memang ditimbulkan dari media-media yang sudah saya sebutkan pada alinea 1. Acara televisi saat ini bisa saya bilang 90% isinya hanya tindakan bodoh dan konyol masing-masing pembawa acara atau tokoh-tokoh dalam Sinetron. 10% sisanya cukup menginspirasi karena saya masih sering menonton acara semacam Mata Najwa dan Kick! Andy. Dan karena lelucon ini sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, menjadikannya barang komersil pun sangat mudah. Dari mulai acara Stand up Comedy, Kanal humor di YouTube, buku-buku komedi, dan gambar-gambar lucu.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr Elizabeth Martin dari University of Missouri menunjukkan, emosi positif misalnya gembira dan senang justru mengurangi kemampuan mengingat untuk sesaat. Meski begitu, emosi negatif juga tidak serta merta meningkatkan daya ingat.
Dalam eksperimen yang dilakukannya, Dr Martin melibatkan sejumlah relawan yang dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok dipertontonkan beberapa video lucu, sedangkan kelompok yang lain dipertontonkan video tutorial pemasangan ubin yang pastinya membosankan. Usai menonton video, seluruh pastisipan menjalani serangkaian tes untuk mengukur daya ingat. Tes itu berupa sederet angka yang diberikan secara lisan melalui earphone, lalu partisipan diminta menyebutkan beberapa angka dalam deret tersebut.
Dibandingkan partisipan yang menonton video tutorial pemasangan ubin, partisipan yang menonton video lucu lebih banyak melakukan kesalahan. Perbedaannya cukup signifikan sehingga Dr Martin menyimpulkan bahwa emosi positif bisa mengurangi daya ingat. "Namun emosi positif juga tidak selamanya buruk. Meski daya ingat menurun, seseorang yang memiliki emosi positif biasanya justru memiliki problem solving (kemampuan memecahkan masalah) yang lebih kreatif," ungkap Dr Martin dalam laporannya di jurnal Cognition and Emotion. (Dikutip dari Detik.com)
Jadi kesimpulannya, tertawa, lelucon, lucu-lucuan memang tidak salah. Tapi jangan semuanya dianggap harus lucu dan menyenangkan. Harus mengerti momen yang tepat untuk lucu-lucuan dan mana yang harus serius. Saran saya, biasakan tidak terus-terusan mencari hiburan. Mulailah membaca buku yang berisi pengetahuan, membaca satu halaman Wikipedia per hari, paling tidak baca e-book dari Smartphone yang bisa dengan mudah anda dapatkan di Toko Aplikasi. Dan biasakan bicara to the point dengan lelucon sekedarnya saja, 80:20. 80 untuk pembicaraan berisi, 20 untuk lucu-lucuan. Mulailah berpikir kritis, dan jangan lupa senyum.


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun