Toleransi Bukan Solusi
Saya lelah. Saya kesal. Dan saya muak dengan semua perdebatan mengenai apakah pemeluk agama islam boleh mengucapkan selamat natal kepada pemeluk agama kristen atau tidak, atau mengenai MUI yang mengharamkan perusahaan memaksa pegawai muslim memakai atribut natal, atau mengenai Ahok yang menistakan agama islam, atau perdebatan mengenai bolehkah orang muslim memilih pemimpin yang beragama lain, atau mengenai bolehkah umat kristen kebaktian di tempat umum.
Saya tahu. Saya punya ide yang sangat brilian!
Mari kita sudahi saja perdebatan yang tidak akan pernah
berakhir ini.
Seperti yang (semoga) telah kita ketahui, penyebab maraknya
kasus-kasus disintegrasi akhir-akhir ini, yang merupakan akibat dari domino-effect demo 4 November lalu,
adalah kurangnya literasi masyarakat kita akan toleransi. Dengan bahasa yang
lebih mudah, kebanyakan orang indonesia tidak memahami makna toleransi
seutuhnya.
Saya kira pembahasan mengenai toleransi beragama sudah
menjadi pembahasan yang klise. Saya yakin semua orang yang berpendidikan sudah
pernah mempelajarinya. Namun demikian, pada kenyataannya, yang selalu terjadi adalah: Kita terbiasa
menggunjing dan mendiskriminasi orang-orang dengan agama yang berbeda, namun di
depan mereka kita berlagak sok baik.
Menurut saya, kebanyakan orang bukannya tidak memahami makna
toleransi, hanya saja mereka sok tahu. Mereka merasa paling memahami makna toleransi
yang sesungguhnya. Bukannya tidak memahami. Padahal toleransi adalah sebuah ide
yang bias. Tidak ada pemahaman yang benar ataupun salah mengenai toleransi.
Hanya saja manusia memberikan batasan-batasan toleransi menurut ajaran agama
mereka sendiri-sendiri. Padahal ajaran agama satu dengan yang lainnya tentu
saja berbeda. Maka dari itu, kesoktahuan mengenai batasan toleransi ini semakin
memperunyam integrasi bangsa Indonesia saat ini.
Kesoktahuan akan toleransi banyak
disalahgunakan oleh para oknum fanatis agama sebagai alat untuk mempropaganda
aksi massa yang sok tahu demi kepentingan kelompoknya.
Toleransi terbukti hanya sebuah ide untuk berpura-pura
menghormati dan menghargai orang-orang yang tidak seagama, seideologi, sesuku,
ataupun seras dengan kita. Toleransi mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang
berbeda dengan kita, namun ketika berhadapan langsung dengan orang yang berbeda
dengan kita, kita dituntut untuk berlagak sok baik pada mereka.
Toleransi bukanlah solusi yang tepat untuk menumbuhkan integrasi bagi masyarakat plural. Lantas apa
solusi yang tepat untuk masalah ini?
Pagi ini saya membuka akun twitter saya yang sudah
usang, untuk sekedar melihat tweet dari tokoh-tokoh yang saya idolakan. Kebetulan saya
menemukan video komersil yang benar-benar brilian dan menyentuh yang di-tweet oleh
Alexander Thian, ia adalah salah satu pembicara favorit saya pada seminar
Pinasthika tahun lalu. Silakan ditonton terlebih dahulu.
One of the most beautiful ads, ever. Well done, Amazon UK. :‘) pic.twitter.com/oYbO3TosHb— Alexander Thian (@aMrazing) November 17, 2016
Cinta.
Kuncinya adalah cinta......dan empati.
Sepasang kekasih yang saling mencintai tidak akan berlagak sok baik pada kekasihnya, sebab ia baik karena ia memang ingin mengasihi pasangannya.
Seorang ibu yang mencintai anaknya tidak akan berpura-pura menyayangi anak-anaknya, karena ia mencintai anak-anaknya tanpa syarat, tanpa batas.
Seorang pendeta dan imam yang mencintai satu sama lain tidak berpura-pura baik saat mereka minum teh bersama saja. Tetapi mereka bersikap empati ketika sudah berpisah dengan cara membelikan sepasang knee pad untuk satu sama lain, karena mereka benar-benar merasakan sakitnya lutut ketika beribadah.
Lantas bagaimana cara mencintai? Pepatah jawa yang cukup populer sudah menjelaskan semuanya. Tresno jalaran soko kulino. Cinta ada karena terbiasa. Biasakanlah bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. Keluarlah dari lingkungan peer group Anda. Membaurlah dengan orang-orang yang berbeda latar belakangnya dengan Anda. Pertama-tama mungkin akan sulit, sama saja seperti saya yang dahulu SD di sekolah berbasis agama lalu SMP di sekolah negeri dengan siswa yang berbeda-beda agamanya, awalnya sangat sulit. Namun lama-kelamaan kita akan saling terbiasa mencintai satu sama lain, bukan hanya saling menoleransi, karena kita benar-benar menghormati dan menghargai perbedaan. Bukan hanya berpura-pura menghormati tapi sebenarnya membenci.
Kebencian yang terpendam oleh kebaikan yang pura-pura hanya akan memperunyam suasana masyarakat plural.
“Try to understand men. If you understand each other you will be kind to each other. Knowing a man well never leads to hate and almost always leads to love.”Mari kita berhenti memperdebatkan toleransi, dan mulai mengutamakan cinta.
― John Steinbeck



0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun