Let's Get Found!

8:55 PM Terra Qoriawan 0 Comments


Berawal dari kegabutan saya pada siang hari kemarin, saya memutuskan secara sepihak (karena memang hanya ada satu pihak yaitu saya) untuk pergi menghilang dari ‘dunia nyata’ selama beberapa saat. Istilah kekiniannya “Let’s get lost”. Karena istilahnya sudah klise, ya sudah akhirnya saya memutuskan pergi ke destinasi wisata paling klise.

Cukup lama saya duduk di atas sepeda motor yang membawa saya pergi ke sebuah pantai yang menurut khalayak instagram masih sepi, mereka menamakannya Pantai Kesirat. Sesampainya saya melihat sekeliling, dan memang masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang berkemah. Anehnya, mereka membawa banyak sekali kamera dan ada seorang anak kecil yang penampilannya cukup familiar bagi saya.

Pantai Kesirat berbatasan langsung dengan karang. Tidak ada pasir putih seperti di pantai-pantai lainnya. Yang ada hanya hamparan sabana di atas karang yang keras. Saya memutuskan untuk menyendiri di sisi paling timur pantai. Berusaha menikmati berbagai elemen alam dengan bernapas sedalam-dalamnya sembari mengosongkan pikiran.

Punchlinenya, bukannya hilang, saya malah ditemukan segerombol tim produksi acara TV Bolang, lengkap dengan si bolang yang topi dan tas merahnya cukup familiar bagi saya serta teman-temannya yang ‘ceritanya’ sedang membantu pamannya memancing lobster. “Mas mohon maaf, ini mau buat syuting, jadi mas mohon pindah ya, maaf lho mas.” Oke. Demi kemaslahatan bersama, saya rasa bukan hal yang menyakitkan untuk diusir.


Saya berpindah dari pojok timur ke tengah pantai. Terdapat sebuah pohon yang cukup teduh dan sebuah bangku dari kayu yang menghadap ke arah lautan di sana, karena suasananya serasa seperti di pantai (memang di pantai sebenarnya) nan mistis, saya memutuskan untuk menulis artikel ini di sini. Pikiran saya yang tadinya kosong terbawa jauh ke masa lalu yang sangat luar biasa bagi saya: menonton sebuah film super menye yang berhasil membuat mata saya tak kuasa menahan mata airnya.

Langit Pantai Kesirat mengingatkan saya pada scene ketika Kugy Karmachameleon dan Keenan pergi ke sebuah pantai di Jawa Barat. Uniknya saya masih menyimpan file musik backsound mereka pada scene tersebut di handphone saya, yakni lagu Langit Amat Indah yang dinyanyikan oleh Rida Sita Dewi, yang kemudian saya putar seraya angan dan rerumputan sabana bernyanyi bersama-sama. Benar, saya membicarakan para agen-agen Neptunus dalam Perahu Kertas, yang entah apa hubungannya neptunus dengan perahu kertas. Bagi yang sudah membaca novelnya silakan jelaskan pada kolom komentar. Hehehe.

Jujur saya memang lebih menyukai film menye-menye drama dibanding film genre lain. Terutama yang dapat membuat jiwa saya terguncang hingga menangis. Menurut saya menangis adalah kewajiban setiap manusia. Dengan menangis, ada sebagian ruh kita yang tadinya sudah mati menjadi hidup kembali. Ada secercah rasa yang tadinya acuh tak acuh menjadi tergugah kembali. Ada satu perasaan batin yang terpuaskan bagi saya.

Sudah sekitar empat kali saya menonton ulang film Perahu Kertas dan Perahu Kertas 2. Empat kali pula saya jatuh pada hati yang sama. Saya jatuh hati dengan Kugy. Menurut saya walaupun kepribadiannya terbilang sangat unik, Kugy tetap tokoh yang believable. Saya percaya bahwa di dunia ini pasti ada orang dengan kepribadian seperti Kugy.

Dalam Perahu Kertas, banyak nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Perahu Kertas bukan hanya menceritakan hubungan romantis kedua tokoh utama, namun juga perjuangan untuk meraih kemerdekaan atas hak mereka untuk berkarya pada bidang yang mereka sukai.

Saya jatuh cinta pada Kugy Karmachameleon, karena dia begitu mencintai Wortelina, Pangeran Lobak, dan murid-muridnya di Sekolah Alit yang ia sebut Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. If i were a girl, saya juga akan jatuh cinta pada Keenan, yang begitu mencintai seni hingga akhirnya berani meninggalkan kuliahnya dan keluarganya demi meraih cita-citanya sebagai seniman. Baik Kugy dan Keenan tinggal dalam dunianya masing-masing. Menurut saya, tinggal di dalam dunia kita sendiri adalah level tertinggi dari apa yang biasa disebut para motivator sebagai passion.

Dunia kita sendiri inilah yang sayangnya tidak dimiliki sebagian besar orang, setidaknya dalam lingkungan saya. Orang-orang terlalu sibuk hidup dalam dunia ‘nyata’, yang merupakan entitas kolektif dari norma-norma dan nilai-nilai yang telah dibangun oleh perspektif masyarakat. Dengan kata lain, orang-orang terlalu sibuk hidup di dalam dunia milik orang lain.

Selama saya hidup, saya telah berkenalan dengan ribuan orang baru. Mendengar kisah-kisah hidup mereka kadang menggelisahkan. Ada seorang pemilik bengkel yang sebenarnya ingin menjadi dokter tapi karena dahulu tidak punya cukup uang maka ia tidak dapat menempuh pendidikan dokter, ada seorang koki yang sebenarnya ingin menjadi pasukan angkatan darat tapi tak tersampikan karena keterbatasan material, ada seorang ibu guru yang sebenarnya ingin menjadi pramugari, dan masih banyak lagi orang di sekitar kita dengan kasus yang mirip.

Terlalu menyedihkan mengetahui banyak orang yang gagal meraih cita-cita mereka, dan terlalu menyakitkan bagi mereka untuk menjalani hidup yang tidak mereka inginkan.

Banyak sekali di antara teman-teman saya yang merasa salah jurusan kuliah. Banyak di antara teman-teman saya yang sampai sekarang masih belum menemukan passionnya, dan apalagi menemukan dunia mereka sendiri. Semua itu karena mereka hanya asal pilih jurusan tanpa memiliki tujuan yang jelas. Alih-alih memperjuangkan cita-cita, orang-orang seperti ini akhirnya akan terseret arus utama (mainstream) dan lantas tak bisa keluar. Mereka akan menghabiskan waktu mereka pada bidang yang sebenarnya kurang mereka minati tapi ‘prospektif’ menurut mainstream, hanya karena ketidaktahuan akan passion mereka.

Akhirnya orang-orang seperti ini akan berpikiran untuk mencari kerja apa saja dengan gaji yang besar lalu bersenang-senang. Itu berarti mereka telah merelakan kecintaannya pada hal yang mereka sukai demi uang. Bukannya bekerja dengan bersenang-senang dan menghasilkan karya terbaiknya dalam bidang yang dicita-citakannya, mereka malah menderita untuk kemudian ‘bersenang-senang’ dengan hasil penderitaannya.

Fenomena lack of passion ini telah menjadi kanker yang menggerogoti manusia. Banyak orang yang pada akhirnya mati penasaran, masih bertanya-tanya sebenarnya apa passion mereka. Banyak pula orang yang sudah mengetahui passionnya tapi tak dapat menemukan dunianya sendiri.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menemukan passion kita? Menemukan dunia milik kita? Tentu saja jawabannya hanya satu: mencari. Atau yang menurut generasi Y disebut sebagai ‘explore’. Jangan-jangan, selama ini yang kita anggap sebagai keterbatasan material (seperti contoh kasus bapak pemilik bengkel dan koki) itu tidak pernah ada, sebab sebenarnya jika kita mau berusaha mencari jalan alternatif masih ada dan terbuka lebar. Jangan-jangan selama ini bukannya kita tidak pernah menemukan dunia kita? Hanya saja kita yang terlalu malas untuk mencoba hal baru di sekitar kita? Jangan-jangan kita terlalu sibuk meng-explore berbagai tempat wisata demi hasil foto yang layak dipamerkan tanpa sempat meng-explore passion kita? Jangan-jangan kita terlalu nyaman nongkrong dan main di ‘dunia nyata’, sehingga lupa ada dunia kita sendiri yang seharusnya kita cari? Jangan-jangan kita tak pernah menemukan Kugy atau Keenan kita sebab kita terlalu sibuk tinggal di dalam dunia milik orang lain?

“Byarr”, suara ombak yang menghantam karang mengalihkan imaji saya kembali kepada laut di hadapan saya. Seketika dua orang pemuda mendatangi saya.

Untuk yang kedua kalinya saya tidak berhasil menghilang dari ‘dunia nyata’, dan untuk kedua kalinya saya diusir karena tampaknya keberadaan saya mengganggu sesi pemotretan ala-ala mereka. Baiklah, mengingat pukul 4 sore ada janji yang penting dengan seseorang, saya sudahi dulu tulisan saya yang tampaknya sudah terlampau panjang ini.

Menghilang dari ‘dunia nyata’ memang sulit, namun untuk menemukan lalu tinggal di dalam dunia kita sendiri hanya dibutuhkan satu hal: mencari.

Let’s get found!

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun