Lihat Masa Depan, Bukan Masa Sekarang

12:00 AM Terra Qoriawan 0 Comments


Baru saja saya menonton film 5 cm. Ya ya, saya tahu film itu kini sudah berumur tiga tahun dan saya baru menontonnya, hehehe. Walaupun filmnya menurut saya tidak realistis dan sangat garing akibat acting kaku Denny Sumargo dan Igor Saykoji, tapi pesan di dalam film itu sedikit membekas. Saya menyukai bagaimana tokoh-tokoh di film selalu memandang ke depan, ke 5 cm di depan matanya, kepada impian-impian mereka.

Saya tidak pernah sepemahaman dengan ayah saya. Walaupun secara fisik kami mirip, kami selalu berbeda pendapat. Ayah saya ingin saya mengendarai motor laki, yang pakai kopling dan menyetir mobil tiga pedal: gas, rem, kopling supaya terlihat gagah, katanya. Namun demikian, saya tidak pernah mau melakukannya. Bagi saya gagah tidak bisa dinilai dari berapa pedal yang saya gunakan atau motor bertransmisi apa yang saya kendarai. Menurut pandangan saya ke depan, 10 tahun lagi saat saya berumur 27 tahun, semua kendaraan pribadi akan merosot nilai jualnya dan pajak kendaraan pribadi akan menjadi jauh lebih tinggi karena krisis bahan bakar fosil dan terbentuknya infrastruktur transportasi umum dengan energi terbarukan yang jauh lebih cepat dibanding kendaraan pribadi yang minum bangkai organisme jutaan tahun lalu.

Begitulah kira-kira cara pandang saya kepada masa depan. Jangan kira 10 tahun lagi dunia masih sama dengan yang sekarang. Bagi yang mempelajari ilmu Sosiologi, mereka mengerti mengenai Dinamika Sosial dan Perubahan Sosial. Namun bagi mereka yang mempelajari Fisika, Kimia dan Biologi, saya mafhum bahwa anda masih belum paham mengenai perubahan dan dinamika sosial.

Bukankah itu yang dilakukan bapak ibu kita dulu? Mereka yang dulu terkekang di dalam kandang orde baru saat ini terbukti gagal mengikuti perubahan jaman yang sekarang serba digital ini. Zaman ini, zaman yang kita sebut teknozoikum, tempat semua orang memandangi layar 5 inci dalam genggaman mereka tidak bisa bapak ibu kita ikuti. Semua karena mereka terbiasa memandang masa sekarang, bukan masa depan.

Teman-teman saya tidak ada yang punya mimpi yang jelas. Ketika saya tanya, mereka ingin jadi dokter, mereka ingin jadi birokrat, ada pula yang ingin menjadi pegawai di perpajakan dan bea cukai. Semuanya ingin nilai yang tinggi, melanjutkan studi ke universitas negeri, bekerja, menikah dan mati.

Tidak ada yang ingin berkontribusi kepada negara. Tidak ada yang mau repot-repot mengubah dunia. Tidak ada yang mau melihat ke depan. Apa pun yang mereka lihat di masa sekarang, yang menurut mereka hebat, berusaha mereka capai kelak.

Jika itu yang mereka lakukan, mereka sangat terlambat. Sepuluh tahun lagi, rumah impianmu sudah ketinggalan zaman karena sepuluh tahun lagi pertumbuhan penduduk sudah tidak dapat dikontrol dan rumah-rumah akan direlokasi untuk dijadikan apartemen.

Sepuluh tahun lagi keluarga impianmu yang beranggotakan lima anak akan menderita akibat penekanan laju pertumbuhan penduduk yang hanya akan memberikan pendidikan gratis bagi anak pertama.

Sepuluh tahun lagi, gadget mahal yang kamu miliki sekarang hanya tumpukan sampah. Sepuluh tahun lagi loper koran tidak akan membagikan koran kertas tapi membagikan komputer tablet sekali pakai berisi koran digital.

Sepuluh tahun lagi motor 500 cc dan mobilmu adalah beban liabilitas yang sangat tinggi. Seperti yang telah disebutkan, sepuluh tahun lagi persediaan bahan bakar fosil akan jadi sangat terbatas dan pertumbuhan transportasi umum sangat pesat sehingga pajak kendaraan pribadi sangat tinggi.

Saya bukan peramal, bukan juga ahli ketatanegaraan atau ekonom yang dapat memprediksi kondisi negeri ini di masa depan. Namun demikian, jelas benar adanya bahwa kita bisa melihat statistik dan jika kita terus mengikuti perkembangan teknologi, bukan tidak mungkin di masa depan akan terdapat teknologi teleport yang akan mematikan usaha penerbangan dan printing makanan yang akan mematikan usaha restoran. Melihat perkembangan teknologi saat ini tidak ada habisnya, bagai memandang ke arah matahari siang-menyakitkan mata.

Saya ingin menyampaikan pesan kepada para pemuda yang membaca artikel ini bahwa mengikuti trend kekinian tidaklah keren. Anda hanya menjadi objek pasar bagi orang-orang kaya. Anda harus melihat ke depan untuk dapat berkontribusi. Anda harus berpura-pura melihat ke depan jika anda tidak mampu, demi berkontribusi pada dunia ini kelak.

Dunia sepuluh tahun lagi, memang tidak ada yang tahu akan jadi seperti apa, namun jelas kita punya kesimpulan: Dunia sepuluh tahun lagi akan sangat berbeda dengan 2015.

"Hanya mereka yang mampu membaca arah angin yang akan memenangkan perang" - Zhuge Liang

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun