[Filsafat Indie] Tujuan Manusia Secara Kolektif?
Dalam beberapa minggu terakhir, saya membaca beberapa karya filsafat politik, seperti The Prince, Leviathan, serta Two Treatises of Government, akibat tuntutan kuliah. Pengalaman baru saya ini awalnya sama sekali tidak mudah, karena bahasa yang digunakan buku-buku tersebut adalah bahasa inggris kuno, dan saya tidak bisa menemukan versi terjemahan ke bahasa indonesianya.. Kalau ada yang punya boleh banget kirim ke saya yaa hehehe.
Jadi apa sih yang saya pelajari dalam buku-buku ini? Well, nggak pelajari juga sih sebenarnya, lebih tepatnya saya jadi memahami cara pandang penulisnya dalam memahami politik - dalam arti yang luas - di antaranya yang paling dominan yakni pertanyaan kenapa negara bisa ada, kenapa kita sebagai manusia membutuhkan negara, mengapa kita membutuhkan seorang penguasa, dan bagaimana sebaiknya kita berperilaku sebagai satu kesatuan warga negara.
Sejujurnya, saya juga nggak paham-paham amat sih ya isi bukunya. Tapi at least buku-buku tersebut sukses bikin otak saya overclock.. jadi entah kenapa tiap saya mandi saya jadi terus-terusan berkontemplasi tentang hidup (?) awalnya, saya hanya kepikiran, "setelah lulus kuliah saya mau ngapain ya?" dalam hati saya berkata apakah cukup mengikuti jejak orang lain saja - mengejar tangga korporasi atau birokrasi, mapan, menikah, punya anak, hidup enak, damai dan mati, atau saya mau pilih yang agak menyimpang - menjadi pekarya - musisi, penulis, pembuat film, atau apapun, dengan begitu saya bisa tetap mengaktualisasi diri saya.
Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, keduanya pun berujung pada hal yang sama; kesuksesan dan kemapanan. Yang lalu saya pikirkan adalah, "lantas apa?" Setelah mencapai puncak karier - baik sebagai pekarya maupun pekerja, ujung-ujungnya saya akan pensiun lalu mati dan dilupakan.
Seperti pepatah dari film The Greatest Showman; "All the shine of a thousand spotlights, all the stars we steal from the night sky will never be enough", manusia memang tidak pernah puas. Begitu memang yang saya rasakan sekarang. Hahahahaha, sukses dan mapan aja belum, udah mikirin setelah sukses dan mapan lantas mau ngapain. Tapi nggak munafik lho, manusia kan memang homo economicus katanya mas John Stuart Mill; bahwa kita selalu menginginkan kekayaan, kemewahan, waktu luang, dan prokreasi (baca: bikin anak). Iya iya, nggak semuanya kayak gitu kok, iya. Namanya juga filsafat, ya harus menggeneralisasi, hehe.
Nah jadi hubungannya sama filsafat politik apa sih? Ya ga ada sih hehehehe habis bingung gimana mulai tulisannya, sekalian mau "mengapresiasi diri" aja karena udah bisa baca buku filsafat yang berat :-)
Oke lanjut, jadi sekarang yang saya pertanyakan, apakah dengan kekayaan, kemewahan, waktu luang, dan prokreasi itu cukup untuk membuat kita puas dengan hidup ini? Well, menurut Epicurus, seorang filsuf yang seumur hidupnya mempelajari arti kebahagiaan, kita nggak akan pernah bisa meraih kebahagiaan lhoh dengan semua itu. Definisi bahagia menurut Epicurus yakni suatu kondisi di mana kita tidak merasakan penderitaan, dan menurutnya, ketakutan manusia akan kematian lah yang bikin manusia menderita. Yak betoel, pada dasarnya kita kan pengen kaya supaya bisa aman dari kematian, dan Epicurus berargumen bahwa nggak bisa kita bahagia kalo kita masih terlampau takut pada kematian. Epicurus berpendapat bahwa hal utama yang dapat membuat kita bahagia adalah pertemanan. Well, ini udah ada bukti empirisnya kok, studi yang dilakukan oleh Harvard selama 75 tahun menunjukkan bahwa yang membuat manusia tidak bahagia utamanya adalah karena rasa kesepian. Selain itu, menurut Epicurus, hal yang membuat bahagia adalah dengan mengaktualisasi diri, cara paling simpelnya? Lewat berkarya. Kalo menurut saya sendiri, kenapa peradaban kita bisa menjadi secanggih dan serumit sekarang ya, salah satunya yang paling berperan adalah keinginan kita akan keindahan yang tak pernah habis, baik itu dalam bentuk rupa, musik, cita rasa, dan sebagainya. Kalau kita nggak pengen keindahan, ya kita cukup hidup bercocok tanam aja terus-terusan, ya nggak? Tapi, sekali lagi Bapak Epicurus bilang bahwa, 'keindahan' yang diciptakan manusia itu nggak akan cukup bikin kita bahagia. Yang bikin bahagia bukan karena kita lihat pemandangan atau lukisan yang bagus, lihat konser musik yang keren, bukan. Yang bikin bahagia adalah pikiran kita akan keindahan. Se'jelek' apa pun suatu karya [menurut orang2], kalau kita suka dan kita benar-benar menikmati baru bisa bikin kita bahagia. Jadi ya, memang paling bikin bahagia kalau kita menjadi seorang pekarya yang jujur, yang memang kita suka untuk kita kerjakan.
Sampai sini, berarti saya sudah punya jawaban akan pilihan jalan hidup yang lebih baik: menjadi pekarya, demi kebahagiaan. Namun demikian, sialnya, pertanyaan saya tadi belum kejawab -_- LANTAS APA???
Iya jadi setelah saya bahagia, lantas apa??? Saya masih melihat mereka yang kurang beruntung mengalami penderitaan, iklim global akan segera berubah, kerusakan lingkungan di mana-mana, krisis sumber daya akan kita hadapi dalam beberapa dekade ke depan. Saya sih, sebagai seorang INFP yang sangat-sangat altruistik (nggak tegaan dan suka menolong, nggak mikirin risiko thd diri sendiri) kayanya nggak akan bahagia kalaupun saya nggak kesepian dan berhasil menjadi pekarya, kalau orang lain belum bahagia seperti saya. Lantas apa yang akan saya lakukan?
WELL, sejujurnya ini lah yang jadi pikiran saya selama beberapa minggu terakhir.
Saya tentunya paham, untuk membuat perubahan (demi menjadikan orang lain ikutan bahagia), saya nggak bisa sendiri. Tapi apa sih yang bisa diharapkan dari masyarakat saat ini? Di mana-mana kita terfragmentasi menjadi bermacam-macam kelompok kepentingan, keinginan kita sama: bahagia. Tapi caranya macem-macem dan bikin konflik kalau udah bertabrakan pandangan. Saya mulai mikir, apa saya masa bodo aja ya ngga usah ngurus hidup orang lain?
OK let's review, menurut filsafat politik yang pernah saya baca, manusia itu membentuk negara pada dasarnya ya karena kita itu homo economicus. Simpelnya gini, negara muncul karena pada awalnya manusia takut hasil panen dari kebunnya bakalan dirampok. Makanya kita butuh hukum kepemilikan, dan untuk meng-enforce hukum kepemilikan, harus ada suatu lembaga hukum kan ya? Maka dari itu mereka terus membuat kontrak dengan satu sama lain untuk tidak saling merampok barang milik orang lain. Nah, hukum ini terus-menerus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban, dan eventually berdirilah suatu negara. Jadi memang pada awalnya negara berdiri atas pemikiran rasional-ekonomis.
Eits, tunggu tunggu, kalo dipikir2, kalo kita lihat dalam konteks kontemporer, apa pun yang manusia lakukan, pasti selalu memiliki motif ekonomi, lhoh. Mulai dari konflik politik, lingkungan, ilmu pengetahuan, dan apa pun yang kita lakukan, tidak bisa lepas dari pemikiran rasional kita sebagai makhluk ekonomi.
Lantas sebenarnya, apa sih yang bikin kita tuh selalu berpikir rasional secara ekonomi???
Jawabannya simpel. Itu karena keinginan manusia yang tidak terbatas berbanding terbalik dengan sumber daya yang sangat, sangat terbatas. Ini hukum dasar ekonomi.
Yep, kalau kita dengar pemberitaan konflik internasional, peperangan, dan sebagainya, yang menjadi akar masalah selalu ialah perebutan sumber daya. Sumber daya bisa jadi daerah teritorial, kekuasaan, sumber daya alam (yang lagi ngetrend jadi meme tuh bahwa amerika selalu cari minyak bumi), kita menjelajah arctic dan antartika dengan misi mencari sumber daya baru. Kita menjelajah luar angkasa dengan motif mencari sumber daya baru. Kita mendesain birokrasi sedemikian rupa supaya sumber daya yang kita gunakan bisa efisien. Kita membuat kebijakan sosial dengan tujuan sumber daya yang didapat setiap individu bisa merata. Sumber daya, sumber daya, sumber daya, sumber daya, dan sumber daya.
Sustainable Development Goals, yang merupakan paradigma pembangunan yang lagi ngetrend sekarang pun, motifnya ekonomi lhoh. Coba kalo kerusakan lingkungan itu nggak ada kaitannya dengan krisis sumber daya, pasti nggak ada yang mau repot-repot menjaga lingkungan.
Oke, dengan asumsi tersebut, maka dengan mudah bisa kita jawab ya, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai manusia: menjaga agar bumi tetap lestari, dengan menjaga lingkungan, menggunakan sumber daya terbarukan, meningkatkan efisiensi sumber daya, bla bla bla bla bla. Saya bilang itu jawaban generik yang nggak masuk akal.
Kenapa begitu?
Manusia punya track record yang sangat buruk dalam menggunakan sumber daya. Semakin efisien teknologi dalam menggunakan suatu sumber daya, maka semakin masif lah sumber daya tersebut digunakan. Contoh paling gampangnya: bensin. Semakin efisien penggunaan bensin, nyatanya malah membuat korporasi semakin masif memproduksi kendaraan bermotor, akibat konsumen yang terus semakin dapat menjangkau biaya kepemilikan kendaraan bermotor. Mengapa begitu? Lagi-lagi, manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu menginginkan sesuatu. Konsekuensinya? Semakin suatu sumber daya terjangkau, semakin banyak orang lah yang pakai. Yang berarti semakin cepat pula habisnya.
Penggunaan sumber daya terbarukan pun memiliki banyak batasan, di antaranya batasan jarak ruang dari pusat sumber daya menuju konsumen, contohnya, penggunaan energi matahari, sangat terbatas pada daerah yang setidaknya sering disinari matahari, kan? Daerah seperti ini misalnya gurun pasir, biasanya sangat jauh dari pusat kota di mana output dari sumber daya tersebut paling banyak digunakan.
Belum lagi, diperparah dengan konflik internasional di sana-sini, selalu memperparah krisis sumber daya kita.
Pada titik ini, saya bisa saja berpikir pesimis bahwa memang sudah kodratnya kita akan punah sebentar lagi karena krisis sumber daya, dan yang harus kita lakukan yakni tinggal menikmati sisa hidup kita, bahagia, lalu mati.
Tapi, pertanyaan-pertanyaan saya di atas, justru menghasilkan pertanyaan, yang, sejauh yg saya cari dan amati, belum pernah dijawab oleh filsuf manapun: Sebenarnya, tujuan kita sebagai manusia secara kolektif itu apa sih?
Yang saya maksud kolektif secara harafiah lhoh ya, kalau kita secara individual kan sudah terjawab: beda-beda. Ada yang nihilis, beranggapan bahwa kita nggak punya tujuan apa2. Ada yang tujuan hidupnya berpegang pada agamanya: misalnya umat buddhisme bertujuan mencapai nirvana, umat islam bertujuan mencapai surga, ada yang tidak beragama tapi intinya tujuan hidupnya adalah berbuat baik terhadap sesama, dll.
Bukan, bukan tujuan hidup individu seperti itu yang saya pertanyakan. Tapi tujuan akhir manusia secara kolektif; keseluruhan.
Bukan juga tujuan hidup yang saya maksud antara lain 'memajukan bangsa dan negara', mewujudkan kesetaraan dan keadilan sosial, dan semacamnya. Tujuan semacam itu, adalah suatu tujuan yang tidak memiliki garis finish, karena pada dasarnya setiap negara berkompetisi untuk mewujudkannya, yang mana pada akhirnya menghasilkan pihak yang menang dan yang kalah.
Maka, dengan argumen-argumen saya tadi, bisa kita sintesiskan bahwa:
Keterbatasan sumber daya adalah akar permasalahan seluruh manusia.
Dan oleh sebab itu, jawaban mudah dari tujuan manusia secara kolektif adalah:
Menghilangkan keterbatasan sumber daya.
Tapi, gimana caranya?
Bukan, bukan dengan mengkonservasi sumber daya, karena konservasi sumber daya ujung-ujungnya juga bikin konflik, dan ujung-ujungnya, manusia yang harus menahan rasa keinginannya sebagai makhluk ekonomi. Bukan juga dengan mencari sumber daya baru.
Jadi gimana???
Saya sendiri juga nggak tahu, dan saya rasa untuk saat ini tidak ada manusia yang tahu bagaimana cara menghilangkan keterbatasan sumber daya. Itu lah sebabnya saya muncul dengan ide diadakannya universal human goal ini, supaya ke depannya manusia memiliki tujuan bersama yang jelas, saling bersinergi untuk mencapai ketidakterbatasan sumber daya.
Saya sendiri berpikir, bahwa untuk menghilangkan keterbatasan sumber daya, yang kita lakukan adalah membangun sebuah realitas baru, sebuah dunia baru di mana sumber daya bisa jadi tidak terbatas, dan yang paling mendekati hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah realitas virtual (virtual reality).
Mengapa virtual reality?
Seperti yang kita tahu, menurut penganut paham empirisme dan materialisme, realitas adalah suatu hal yang bisa kita rasakan dan alami dengan pancaindera kita. Maka, dengan mengembangkan teknologi yang dapat mengintegrasikan kelima indera tersebut dalam dimensi ruang dan waktu yang sama, akan terciptalah realitas virtual.
Nah, sebagai generasi yang hidup di era pesatnya perkembangan teknologi digital, kita tentu tahu bahwa sesuatu yang digital, itu tidak terbatas. Dalam artian suatu data bisa dengan mudah kita perbanyak. Maka, dengan berpindahnya realitas kita ke realitas virtual yang dibangun oleh teknologi digital, kita tidak membutuhkan sumber daya lagi. Jadi, keinginan kita sebagai makhluk ekonomi yang tidak terbatas, dapat terwujud hanya dengan memerintah sistem.
Contoh gambarannya kira-kira begini:
A seorang manusia. Manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu menginginkan sesuatu, misalnya A sedang ingin makan nasi goreng. Untuk memenuhi keinginannya, A membutuhkan sumber daya: nasi, minyak, ayam, garam, telur, penggorengan, dan api. Tetapi, dengan realitas virtual, A tinggal masuk ke dalam dunia digital dan memerintah sistem untuk memberikannya nasi goreng. Nasi goreng ini merupakan hasil copy paste dari nasi goreng yang dibuat seseorang lalu dia rekam seluruh unsur inderawinya: gambar, rasa, suara, bentuk, dan aromanya. Dengan demikian, A telah memenuhi keinginannya tanpa menggunakan sumber daya yang sebenarnya.
Kedengarannya sepele, ya? Tapi bagaimana kalau pengalaman makan nasi goreng yang diinginkan A itu kita ganti dengan hal seru lainnya yang kalau di dunia nyata membutuhkan sumber daya yang masif; seperti sky diving, menjelajahi dunia bawah laut, merasakan zero gravity, dsb. Whoa! Maka virtual reality dapat memenuhi apapun keinginan manusia tanpa membutuhkan sumber daya, bukan?!
Sayangnya, untuk saat ini, perkembangan teknologi digital kita memang mandek hanya dalam tataran audio, visual, dan gerak saja. Teknologi penciuman dan perasa digital masih sangat jauh dari kata layak untuk bisa dibilang sebagai realitas virtual. Keterbatasan penyimpanan data juga menjadi tembok tebal penghalang pengembangan realitas virtual. Menyimpan data gambar dan suara saja sudah bikin handphone dan laptop kita jadi lemot, gimana coba kalo kita menyimpan data aroma, bentuk, dan rasa?
Yang jadi berita baik adalah, akhir-akhir ini saya baru membaca tentang teknologi quantum computing. Para Ilmuwan komputer saat ini tengah mengembangkan jenis komputer yang berbeda dengan komputer konvensional. Komputer kuantum ini gampangnya mereplikasi cara alam (dengan kata lain: realitas) dalam memproses fenomena alam. Misalnya: bagaimana pepohonan yang terpapar sinar matahari dapat menghasilkan bayangan. Caranya? Dengan memanfaatkan qubit (versi modifikasi dari bit) yang tidak hanya terdiri dari binary 0 dan 1 saja tapi juga tengah-tengahnya; antara 0 dan 1. Hasilnya? Proses kalkulasinya jauh lebih cepat, ya seperti proses kalkulasi dalam dunia kita. Quantum computing ini bisa jadi merupakan kunci yang kita butuhkan untuk mengembangkan realitas virtual. Semoga.
Realitas virtual sendiri, sebagai solusi atas keterbatasan sumber daya pun, bisa dibilang paradoks ya. Mengingat untuk menjalankan sistem realitas virtual juga dibutuhkan energi yang masif. Tapi setidaknya, keterbatasan jarak ruang dari sumber energi terbarukan menuju pusat digunakannya energi dapat terpangkas dengan teknologi internet. Jadi, bagi saya, realitas virtual adalah suatu hal yang paling feasible yang dapat dijadikan sebagai agenda global dalam mencapai ketidakterbatasan sumber daya.
Bukan tidak mungkin, kalau kita sebagai manusia benar-benar bekerjasama untuk mengembangkan teknologi realitas virtual, kita dapat benar-benar mencapai ketidakterbatasan sumber daya, yang dapat menghilangkan segala konflik di dunia. Kesetaraan tercapai karena sumber daya tak terbatas, keadilan tercapai karena motif utama tindak kriminal; keterbatasan sumber daya, telah tereliminasi. Semua orang akhirnya dapat berdamai satu sama lain. Semua manusia akhirnya dapat menyadari bahwa kekayaan, kemewahan, waktu luang, serta prokreasi tidak ada artinya dibandingkan kebersamaan dan pengaktualisasian diri.
Namun demikian, bukan pula tidak mungkin kalau dalam proses maupun hasil akhir dari usaha manusia mewujudkan tujuan kolektifnya, akan terdapat variabel-variabel baru yang patut diperhitungkan juga.
[DISCLAIMER: Artikel ini hanyalah buah keisengan saya dalam berpikir secara bebas, kontennya bisa jadi menabrak norma-norma dalam masyarakat, maka yang perlu dicatat adalah, tulisan ini bebas dari norma apapun, sehingga saya tidak menerima kritik normatif, terima kasih.]


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun