Utopia bagi Kita

10:17 AM Terra Qoriawan 0 Comments



Kita bertemu dalam gelap. Aku datang membawa kelam.
Tanganku selalu dingin, begitu pula ucapanku.
Aku abu-abu, aku tidak pernah mengatakan kebenaran ataupun kebohongan.
Aku palsu. Aku haru. Aku muram. Aku menikam. Tapi tak padam.
Aku diam, bukan karena bisu. Hanya saja aku lebih senang bermakrifat.
Karena dasar neuronku didesain demikian.


Kini sinar yang kau dambakan datang membawa kharisma.
Putih yang sejati, hitam yang hakiki. Dengan senyuman dan kehangatan.
Ia berisik. Ia dipenuhi harapan, asa, dan cita-cita.
Ia mengerti, ia mengayomi dengan segala kasihnya.


Namun demikian, gelap adalah syarat terjadinya perubahan.
Revolusi ada karena sendu, karena suram, karena renung.
Utopia dilahirkan oleh tumpah darah. Bukan cuma perdamaian.
Sebuah paradoks yang memang demikian adanya.
Utopia dapat terwujud oleh melankolia dan idealisme.
Sayangnya tidak begitu dengan cinta. Cinta ada karena pragmatisme.


Pemikir revolusioner tak bisa menjadi terang, karena itu akan memadamkan bara dalam hati.
Untuk itu aku tulus dan ikhlas, untuk kau yang sedang dalam bahagiamu.
Aku akan selalu memperjuangkan yang terbaik untuk kita, sampai suatu saat,
ketika aku telah merdeka dan mampu menciptakan terang utopia bagi kita.

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun