Budaya Indonesia Harus Di-Update dan Diperkeren

7:36 PM Terra Qoriawan 0 Comments

kebudayaan akulturasi

Banyak sekali artikel dan penelitian yang dengan tanpa ampun menghakimi anak muda tidak suka budaya tradisi Indonesia dan lebih memilih hidup "kebarat-baratan." Penghakiman tersebut memang benar, namun itu bukan salah kami (ya, kami, saya juga anak muda lho). Saya tidak akan bohong dengan mengatakan bahwa budaya yang dimiliki Indonesia adalah budaya yang luhur dan memiliki nilai-nilai dan filosofi yang bermakna. Saya akan melihat dari sudut pandang yang berbeda dari pandangan orang biasanya. Let's be real. Saya menyatakan dengan jujur bahwa budaya yang dimiliki Indonesia saat ini sudah kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Itu lah penyebab utama kurangnya minat anak muda terhadap budaya tradisi; (terdengar) tidak keren dan ketinggalan zaman.

Seiring pergantian waktu, makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama-kelamaan akan punah, yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Itu lah seleksi alam, dan saya rasa seleksi alam juga berlaku dalam kebudayaan, budaya yang tidak mampu beradaptasi lama-kelamaan akan punah.

Suatu kewajaran jika tradisi seperti jathilan mulai ditinggalkan. Secara materialis dan logis, memakan beling dan bahkan silet adalah perbuatan yang tidak perlu, saya bukan mengkhawatirkan pelakunya, karena mereka tentu telah terlatih, yang saya sayangkan adalah beling dan siletnya, kenapa harus dimakan? Padahal beling dan silet bisa lebih berguna ketika digunakan dengan cara yang benar.

Kita juga harus mengerti mana kebudayaan yang harus dilestarikan dan mana yang harus ditinggalkan. Tidak serta merta semua kebudayaan yang ditinggalkan kakek-nenek kita harus dilestarikan. Contohnya kebudayaan sesajen yang mempersembahkan hasil bumi kepada ruh leluhur atau arwah yang bersemayam di gunung tertentu. Hal itu secara materialis, logis, dan berdasarkan pandangan agama adalah hal yang sia-sia. Hasil bumi tersebut jika dibagi-bagikan pada warga yang kurang mampu tentu akan jauh lebih bermanfaat.

Saya termasuk siswa yang paling radikal dan tidak setuju oleh kebijakan di daerah saya. Setiap hari Kamis Pahing, seluruh siswa SMP dan SMA Negeri dipaksa diwajibkan mengenakan pakaian adat Jawa di sekolah, lengkap dengan jarik dan keris. Menurut dinas pendidikan dan kebudayaan di daerah saya, kebijakan ini merupakan win-win solution, di satu sisi industri sandang tradisional akan menjual banyak baju adat dan perekonomian terangkat, di lain sisi budaya pakaian tradisional akan tetap lestari, padahal kenyataannnya tidak sesederhana itu.

Kenyataan di kelas, kami, siswa-siswi, merasa tidak nyaman belajar dengan busana tradisional. Kami harus masuk sekolah pukul 6.30 pagi, dan kami merasa tidak punya cukup waktu untuk bersolek di depan cermin, paling tidak supaya terlihat rapi, dan efek yang paling buruk dari kebijakan ini yaitu bukannya semakin cinta, kami malah jadi membenci budaya pakaian tradisional karena kami hanya terpaksa dan itu hanya menyusahkan kami.

Tentu saja tulisan ini tidak bertujuan untuk menjelek-jelekkan budaya Indonesia, saya tidak sepicik itu. Saya hanya berusaha menawarkan cara pandang yang berbeda dari yang biasanya mengenai budaya Indonesia. Saya paham kritik yang saya sampaikan di sini harus saya imbangi dengan solusi.

Menurut saya isu lunturnya kebudayaan tradisi di kalangan anak muda seharusnya disikapi secara kreatif dan dengan jiwa muda, bukan dengan pemaksaan.

Kita ambil studi kasus negara yang paling sukses melestarikan budayanya, bahkan memanfaatkan kebudayaannya sebagai hegemoni: Jepang. Di Jepang tidak ada peraturan setiap Senin Pon siswa diwajibkan mengenakan kimono, yukata ataupun hakama, because that's just non-sense, tapi lihatlah antusiasme anak muda nippon, mereka sangat bangga dan dengan kesadaran sendiri mereka mengenakan pakaian tradisional pada festival-festival dan upacara tradisional. Mengapa bisa demikian? Tentu saja jawabannya adalah budaya populer asli Jepang, manga dan anime.

Dalam manga dan anime, selalu terdapat unsur kebudayaan Jepang yang kental, paling tidak salah satu karakter dalam manga atau anime akan makan ramen, makan sushi, atau berpakaian tradisional. Bahkan dalam manga dan anime fantasy atau sci-fi yang latarnya bahkan bukan di Jepang, tetap selalu ada konten kebudayaan tradisi di dalamnya. Walaupun judulnya budaya populer, manga dan anime tidak pernah meninggalkan budaya tradisi. Manga dan anime digunakan sebagai media untuk merevolusi budaya tradisi Jepang. Setiap orang yang membaca manga atau menonton anime secara tidak sadar akan merasa budaya Jepang sangatlah keren, karena visualisasi dan pembawaan yang keren dari tokoh-tokohnya. Budaya ninja, misalnya, divisualisasikan dengan cara yang keren, epic dan tidak biasa oleh manga dan anime Naruto. Kehidupan ninja dievolusikan menjadi terbuka dan modern. Hasilnya, bahkan detail kebudayaan ninja, seperti ninjutsu, serta senjata tradisional seperti shuriken dan kunai jadi bisa mendunia dan diketahui seluruh belahan dunia.

Caranya bukan dengan dipaksakan, tapi dengan meng-update dan memperkeren suatu kebudayaan.

Tentu saja yang saya maksud bukan macam tutur tinular.

budaya indonesia kuno

Sampai ada gundam-nya, hahahaha, kalau itu namanya mencampuradukkan kebudayaan. Yang saya maksud misalnya seperti manga Garudayana.

garudayana

Memperbarui dan memperkeren suatu kebudayaan tidak harus mengubah inti dari kebudayaan tersebut, yang perlu diubah adalah cara promosi, cara publikasi, dan konten dari kebudayaan tersebut. Kebudayaan Sendratari Ramayana, misalnya, bisa dibuatkan Youtube Series, dengan setting masa depan macam science fiction, disertai visualisasi dan animasi yang keren, dan dipromosikan lewat campaign di media sosial, lalu dibuatkan kompetisi fan art. Dengan engagement pasar yang tepat, Sendratari Ramayana bisa segera menjadi kebanggaan anak muda dan mereka akan senantiasa mengenakan atribut anoman dan kebudayaan ramayana dapat menyebar secara viral ke seluruh dunia.

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun