Cara Terbaik Memulai adalah Melakukan, Bukan Merencanakan
Minggu lalu saya ngobrol dengan seorang teman. Ada satu pertanyaan yang ditanyakan oleh teman saya yang mengganjal sampai saat artikel ini ditulis, “Gimana cara mulai belajar main gitar?” Saya jawab “tidak tahu” karena memang saya tidak tahu bagaimana caranya dulu bisa belajar main gitar. Lalu dia mengembangkan pertanyaan seperti, “Dulu sebelum belajar yang perlu disiapin apa aja? Gitar? Pick? Apalagi?”, “Lesnya bagusnya di mana ya? Bagus lembaga yang mana?” Saya hanya bisa jawab, “Ngg, bahkan dulu gitar aja aku nggak punya, belajarnya cuma seminggu sekali kalo guru lesnya datang bawa gitar, atau syukur-syukur bisa pinjem gitar punya saudara kalau lagi ke rumahnya.” Ya itu memang benar, dulu waktu kecil saya meminta sampai nangis-nangis kepada orangtua buat dikursuskan bermain gitar. Alasannya sederhana. Kakak saya dikursuskan main drum di lembaga pendidikan musik ternama di kota saya dan saya sekedar iri saja saat itu. Akhirnya saya dicarikan guru les privat di iklan baris di koran. Yang paling murah. Fakta menariknya: Kakak saya hanya bertahan tidak sampai setahun. Sedangkan saya malah cocok dengan guru privat yang paling murah itu, saya kursus dengan beliau hampir 5 tahun dan telah dinyatakan lulus jenjang intermediate. Padahal saya tidak melakukan perencanaan. Hehehehe.
Dari pengalaman saya belajar gitar, dapat diambil pelajaran yaitu untuk memulai sesuatu yang butuh proses panjang, kita tidak perlu menyiapkan apa pun. Yang kita butuhkan hanya motivasi. Bahkan motivasi tidak harus yang positif, tidak harus “untuk mencari kesuksesan” atau “menguasai dunia.” Motivasi radikal tapi spesifik macam “iri karena kakak saya dikursuskan sedangkan saya tidak” itu jauh lebih membantu.
Saya jadi ingat manga kesukaan saya, judulnya Slam Dunk karangan Inoue Takihiko. Tidak seperti komik bertema olahraga pada umumnya, yang biasanya tokoh utamanya memiliki determinasi yang tinggi; ingin menjuarai kejuaraan nasional, ingin menjadi pemain terhebat se-Jepang atau bahkan sedunia, Slam Dunk menceritakan seorang tokoh bernama Hanamichi Sakuragi, seorang siswa bodoh setengah preman yang bergabung ke dalam klub basket sekolahnya hanya karena alasan yang super dangkal dan sederhana: Ia ingin berangkat sekolah dan pulang sekolah dengan berjalan bersama-sama Haruko Akagi, gebetannya yang sangat menyukai olahraga basket. Namun seiring cerita berlanjut, akhirnya Hanamichi benar-benar mencintai basket. Ia bermain basket motivasinya bukan lagi hanya karena cinta sepihaknya pada Haruko. Ia jadi benar-benar mencintai olahraga basket. Sama halnya dengan saya yang motivasinya hanya iri pada kakak lalu akhirnya benar-benar mencintai bermain gitar dan mencintai musik.
Seperti kalimat ungkapan bahasa jawa, “Witing trisna jalaran saka kulina”, (Cinta tumbuh karena terbiasa) untuk mencintai suatu hal, baik itu hobi, pekerjaan, atau bahkan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan, hanya diperlukan “kebiasaan”.
Jadi jika Anda misalnya ingin bisa desain grafis, silakan cari orang yang mau mengajari Anda, atau belajar dari video-video di Youtube atau sumber lainnya secara otodidak. Anda tidak perlu membeli komputer dengan hardware kelas atas dulu, pakai saja yang ada di sekitar Anda, bahkan pinjam orang lain juga tidak masalah. Anda juga tidak harus menyiapkan peralatan khusus seperti mouse dengan dpi tinggi atau software yang mahal. Dimulai dari membuat gambar-gambar basic terlebih dahulu, misalnya logo-logo perusahaan. Lalu selang waktu beberapa bulan coba Anda review lagi apakah Anda benar-benar menyukai desain grafis. Jika Anda mulai menyukainya maka lanjutkan, jika Anda merasa desain grafis terlalu membosankan maka tinggalkan, cobalah cari hal lain yang kira-kira ingin Anda tekuni, toh tidak ada salahnya jika misalnya suatu saat Anda bekerja di bidang marketing lalu karena kekurangan tenaga, Anda dituntut untuk mendesain sendiri iklan cetak sebuah produk, Anda bisa memanfaatkan skill desain grafis Anda.
Sama halnya dengan bidang lain yang ingin ditekuni, cara terbaik untuk memulai adalah melakukan. Perencanaan, peralatan dan perlengkapan itu masalah belakangan, sambil jalan.


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun