Budaya Ngaret Orang Indonesia
Zaman sekarang hampir semua orang memakai jam tangan ke manapun mereka pergi. Hampir tiap orang punya gadget yang jamnya terhubung ke jam global melalui internet. Tapi kenapa fenomena ngaret masih menjadi hal yang wajar?
Apa sulitnya on time bro? Apa sulitnya bergerak? Apa sulitnya menepati kesepakatan waktu yang disetujui bersama? Apa sulitnya beranjak dari mode pewe dan mager ke mode siap?
Fenomena ngaret nampaknya sudah membudaya di kalangan seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya di kalangan rakyat. Di kalangan pejabat pun demikian. Maka jangan heran jika rapat paripurna pun sering ngaret.
Saya punya pengalaman Rapat Panitia Pembentukan Forum Komunikasi Pengurus OSIS Kota Yogyakarta. Saya ikut rapat tiga kali, dua kali sebagai tuan rumah dan sekali sebagai tamu. Menariknya, rapat yang dihadiri seluruh ketua OSIS SMA Negeri calon pemimpin masa depan tersebut rata-rata molor dua jam karena kedatangan peserta rapat yang ngaret. Apakah sesulit itu untuk on time? Belum lagi terlalu banyak yang ijin tidak bisa hadir. Rapat sepenting itu tidak wajar jika tidak dijadikan prioritas. Baik, kita bicarakan prioritas di lain kesempatan.
Selain itu dengan on time agenda kita bisa terlaksana dengan baik. Pembuat janji dapat mengatur waktunya dengan tepat. Manajemen waktu pun menjadi lebih baik, kerja lebih efisien dan meningkatkan produktivitas kerja.
Tolong jangan berpikiran "yang lain nanti juga telat". Berpikiranlah "lebih enak menunggu daripada ditunggu". Jangan pula ada kata mager sebagai alasan utama penyebab ngaret. Sebenarnya hal-hal kecil semacam ini lah yang ingin dirubah Pak Jokowi melalui semangat Revolusi Mentalnya. Saya minta tolong dengan sangat. Jangan ngaret lagi. Datanglah satu menit sebelum waktu yang dijanjikan. Dengan begitu, Indonesia pasti menjadi lebih baik. Dengan manajemen waktu yang baik dari seluruh kalangan rakyat. Tingkat produktivitas naik, sehingga Indonesia dapat lepas landas menjadi negara maju.
Tolong jangan berpikiran "yang lain nanti juga telat". Berpikiranlah "lebih enak menunggu daripada ditunggu". Jangan pula ada kata mager sebagai alasan utama penyebab ngaret. Sebenarnya hal-hal kecil semacam ini lah yang ingin dirubah Pak Jokowi melalui semangat Revolusi Mentalnya. Saya minta tolong dengan sangat. Jangan ngaret lagi. Datanglah satu menit sebelum waktu yang dijanjikan. Dengan begitu, Indonesia pasti menjadi lebih baik. Dengan manajemen waktu yang baik dari seluruh kalangan rakyat. Tingkat produktivitas naik, sehingga Indonesia dapat lepas landas menjadi negara maju.


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun