Sajak Malam yang Gelisah (By AlanisAngelitaaa.blogspot.com)
Sudah beberapa hari aku tak menyimak kabar tentang negeri ini. Kesibukan semakin membuatku tak mengenal dunia luar yang lebih liar dari yang biasa kujalani. Semakin tak jelas juga kaki ini membawaku kemana. Setiap hari bertemu orang baru, mendengar cerita baru, mendapatkan juga kehidupan yang sebenarnya (tentang penjual es teh yang nasibnya tergantung Satpol PP yang main usir tanpa memberikan solusi jelas kemana Ia harus pergi dan mendapat penghasilan).
Orang baru dan cerita baru. Semakin membuatku menyatu dengan negeri ini. Wajah asli dari negeri ini terus kutemui dari orang-orang baru.
Lagi-lagi aku mengeluh, “mengapa waktu hanya 24 jam?" Aku
ingin ini, aku ingin itu, aku
ingin semuanya. Jadi jiwaku menjawab “hey sebenarnya apa yang kau inginkan?
Jangan semakin menambah budak di negeri ini.”Oh aku ingat di dalam diriku
terdapat jiwa yang seharusnya kupelihara dengan baik, bukan malah kubuat lelah
tak berdaya seakan dirinya adalah budak yang harus menuruti kemauanku. Bagaimana bisa diriku tidak bersinergi dengan
jiwa? Ah aku bingung bagaimana harus menjawab jiwa, lalu kukatakan saja “hey
jiwa, aku hanya ingin membaca koran. Aku hanya ingin mengetahui kabar tentang
negeriku. Aku bukan oportunitis yang terus memikirkan duniaku. Aku hanya tak
punya banyak waktu untuk saat ini,” seakan jawaban jiwa membuatku tertegun, “ah
omong kosong! Koran? Jadi wujud kepedulianmu dan keingintahuanmu tentang negeri
ini hanya kau manifestasikan dengan koran?”
Jiwa menangis. Aku tak tahu mengapa jiwa menangis. Aneh
sekali tak biasanya Ia menangis. Lalu setelah menangis Ia tertawa, tetapi aku
ragu karena tawanya bukan tawa bahagia. Tampaknya jiwa sedang menertawakan
dirinya sendiri.
Lalu jiwa merebahkan kepalanya, memejamkan mata, dan mulai
menasihatiku yang terus mengeluh akan waktu yang tak lebih dari 24 jam, tentang
kisah negeri ini yang jauh dari jangkauan, tentang ‘manusia-manusia Indonesia’,
tentang advokasi yang terus memperjuangkan hak-hak manusia, dan tentang, dan
kabar seputar kebahagiaan dari negeri ini.
Dari Jiwa untukku
Dengar,
Aku tak paham dengan jalan pikiranmu. Kendati dirimu tak
pernah tertarik pada ilmu alam tetapi aku yakin betul bahwa kau pernah
mendapati gurumu mengajarkanmu tentang rotasi bumi yang mengakibatkan waktu
hanya 24 jam. Jadi, atas dasar apa dirimu terus mengeluh? Syukuri saja lah apa
yang telah menjadi kehendak Tuhan. Kau ini juga ciptaannya, seharusnya kau
menghargai apa yang sudah ada. Memang kau bisa mengubahnya lagi? Ah yang benar
saja!
Hei dengar lagi,
Aku sudah muak mendengar kemurunganmu tentang kabar yang kau
tinggalkan karena kesibukanmu. Aku geram apabila kau pulang dengan wajah kusut
lalu hanya karena hal konyol seperti “aku lupa membeli koran di pagi hari. Ah
selalu begini, pada akhirnya hanya sesal yang kudapati.”
Hei kau, iya kau!
Aku tahu kau sangat mencintai negeri ini bahkan kau lebih
mencintai negeri ini daripada diriku. Tak mengapa, karena apa yang kau cinta
akan selalu kucintai. Begitu adanya, kau dan aku (jiwamu) tak akan pernah berpisah,
kecuali kematian yang akan datang di waktu yang telah ditentukan. Jadi, biarkan
aku sepenuhnya mencintai apa yang kau cintai. Dan biarkan aku merasakan apa
yang kau rasakan. Tentang kepedihan orang-orang yang kau temui, tentang kisah
sedih di balik negeri ini, tentang para pahlawan yang semakin lama semakin
dilupakan, tentang cerita manusia biasa yang memperjuangkan hak manusia, dan
tentang kerumunan orang-orang di kursi itu yang tanpa lelah tiada henti mencari
cara hingga rambut semakin rontok untuk sebuah kesenangan. Bukan, bukan
kesenangan kita. Namun kesenangan cacing-cacing di perutnya dan barang branded
apalagi yang akan dibeli. Tenang saja, kau tak merasakan pelik itu sendiri. Aku
ikut merasakan apa yang kau rasakan. Tak lupa kan bahwa aku dan kau tak bisa
dipisahkan?
Namun, dengarlah kali ini kumohon dengarkan aku,
Jangan
kau sesali berita yang kau tinggalkan, tiada guna
bagimu hanya menambah rasa salah! Padahal sama sekali tak salah! Kau
tahu,
dengar-dengar berita harian sungguh membosankan. Surat kabar, surat
elektronik,
dan twitter yang penuh kicauan pun selalu menciptakan sensasi demi
sensasi untuk
memberikan dampak yang bombastis bagi rakyat di negeri ini. kau tahu
polemik
penguasa? Ya, berita itu terus dimuat dimana-mana seakan mengalihkan
perhatian
rakyat dan membuatnya semakin lupa atas kejadian-kejadian yang lebih
berarti
yang belum terselesaikan. Maka dari itu jangan kaget jika rakyat di
negeri ini
mudah lupa atas peristiwa penting. Aku pun juga tak mengerti apa yang
ada di
pikirannya. Tak hanya itu, berita harian hanya tentang ‘mereka’,
‘mereka’, dan
‘mereka’ jangan harap ‘kami’ yang menjadi subjeknya. Terus saja ‘kami’
hanya
menjadi objek. Sudah berapa banyak rakyat kecil mati kelaparan dan tak
punya
rumah? Dan sudah sebesar apa buncitnya ‘mereka’ yang terus mengambil hak
si kecil? Ketahuilah bahwa dengan kau tak mengikuti kabar harian itu
bukan berarti
kau melewatkan kabar penting dari negeri ini. justru jika kau tak
mengikutinya
akan mengurangi pedih yang turut juga kau rasakan atas penderitaan
rakyat di
negeri ini. yang kau cari jarang ditemukan di kabar harian. Yang kau
temukan
hanya sensasi-sensasi baru yang terus mencetak rekor di tiap tahunnya.
Tenang
saja, kau akan lebih menjadi manusia bebas jika kau tak terbebani dengan
kabar
harian.
Karena yang penting bagi kita dan yang merugi bagi ‘mereka’
hanya akan terus disembunyikan. Perihal reklamasi dan perlawanan rakyat di Bali
hanya akan menjadi topik bahasan para aktivis dan advokasi atau segelintir yang
masih mau peduli. Tentang kebakaran hutan yang terus terjadi hanya akan kau
dapati langsung. Tentang daerah perbatasan yang tak pernah mendapat keadilan
dan terus menggantungkan hidupnya dengan negara tetangga juga tak ada. Maka ini
bukan salah ‘kita’ yang masih mau peduli, tetapi karena kabar harian jarang
membahas. Tentang negeri ini, tentang budaya ini, tentang etnik ini, tentang
keragaman, tentang keindahan dan panorama, tentang kesenian lokal, tentang
prestasi negeri ini, tentang kebanggaan putra-putri negeri ini, tentang
hebatnya penghasilan negeri ini, tentang potensi negeri, tentang sumber daya
alam, tentang wawasan nusantara, dan tentang nilai luhur yang lahir dari
idelologi yang diakui keindahannya oleh dunia, “pancasila” langka untuk
ditemukan. Dan yang kau temukan hanya polemik dan kabar yang membuat kepalamu
semakin sakit.
Jadi,
janganlah bersedih apabila waktumu hanya 24 jam dan kau
tak bisa terus mengikuti kabar tentang negeri ini yang harus kau
perbarui tiap
harinya, karena kabar itu tak akan menghapus kepedihanmu, karena kabar
itu tak
akan mengurangi kemiskinan yang dideritanya, karena kabar itu tak
memberikan
perubahan apa-apa bagi hidupnya, karena kabar itu hanya akan membuatmu
edan! Biarlah dirimu dan aku merasakan dan mendapati kabar yang kita
ekspetasikan
secara langsung dengan mengenali tanah indah ini yang turun-temurun dari
nenek
moyang yang katanya pelaut dan dahulu pada zaman Belanda dikenal sebagai
penghasil rempah-rempah terbaik. Biarkan aku merasakan dan memperjelas
fakta
yang ada dengan bantuan dengan pikiran, mata, telinga, hati, tangan, dan
kakimu. Biarlah kakimu membawa kita untuk memijak tanah negeri ini dari
Sabang
hingga Merauke sehingga kita dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi
di
negeri ini dan ragamnya wajah-wajah dari negeri ini karena banyak yang
bilang
negeri ini terkenal dengan perbedaan. Bahkan hari raya islam juga
berbeda!
Kau
tahu mengapa aku menangis? Aku menangisimu yang sesal karena kabar yang
kau lewati tentang negeri ini. Tak ada bahagia yang kau dapat, kepiluan
hanya akan terus mencekikmu. Untuk itu aku menangis! Aku juga menangis
karena kau tak pernah memberikan kesempatan padaku untuk mengenal apa
yang kau cintai secara langsung, kau hanya mencintai lewat kabar yang
kau telan mentah-mentah. Tidak usah! Tidak perlu! Gunakan pikiran, mata,
telinga, kaki, dan tanganmu untuk bergegas mencari tahu sendiri tentang
'kabar sebenarnya', 'kabar yang disembunyikan', dan 'kabar yang harus
dikabarkan' pada sesama rakyat negeri ini, dan izinkanlah aku bertualang
denganmu untuk menjajal seantero negeri ini. Sekali lagi, janganlah kau
gelisah. Janganlah kau bersedih.
Tertanda,
Jiwa


Salam kenal. Numpang promo ya :)
ReplyDeleteamrayfathi24.blogspot.com
mengandung arti yang sangat dalam sampai aku tidak begitu paham....
ReplyDelete