Sajak Malam yang Gelisah (By AlanisAngelitaaa.blogspot.com)

12:21 AM Terra Qoriawan 2 Comments



Sudah beberapa hari aku tak menyimak kabar tentang negeri ini. Kesibukan semakin membuatku tak mengenal dunia luar yang lebih liar dari yang biasa kujalani. Semakin tak jelas juga kaki ini membawaku kemana. Setiap hari bertemu orang baru, mendengar cerita baru, mendapatkan juga kehidupan yang sebenarnya (tentang penjual es teh yang nasibnya tergantung Satpol PP yang main usir tanpa memberikan solusi jelas kemana Ia harus pergi dan mendapat penghasilan).
Orang baru dan cerita baru. Semakin membuatku menyatu dengan negeri ini. Wajah asli dari negeri ini terus kutemui dari orang-orang baru.
Lagi-lagi aku mengeluh, “mengapa waktu hanya 24 jam?" Aku ingin ini, aku ingin  itu, aku ingin semuanya. Jadi jiwaku menjawab “hey sebenarnya apa yang kau inginkan? Jangan semakin menambah budak di negeri ini.”Oh aku ingat di dalam diriku terdapat jiwa yang seharusnya kupelihara dengan baik, bukan malah kubuat lelah tak berdaya seakan dirinya adalah budak yang harus menuruti kemauanku. Bagaimana bisa diriku tidak bersinergi dengan jiwa? Ah aku bingung bagaimana harus menjawab jiwa, lalu kukatakan saja “hey jiwa, aku hanya ingin membaca koran. Aku hanya ingin mengetahui kabar tentang negeriku. Aku bukan oportunitis yang terus memikirkan duniaku. Aku hanya tak punya banyak waktu untuk saat ini,” seakan jawaban jiwa membuatku tertegun, “ah omong kosong! Koran? Jadi wujud kepedulianmu dan keingintahuanmu tentang negeri ini hanya kau manifestasikan dengan koran?”
Jiwa menangis. Aku tak tahu mengapa jiwa menangis. Aneh sekali tak biasanya Ia menangis. Lalu setelah menangis Ia tertawa, tetapi aku ragu karena tawanya bukan tawa bahagia. Tampaknya jiwa sedang menertawakan dirinya sendiri.
Lalu jiwa merebahkan kepalanya, memejamkan mata, dan mulai menasihatiku yang terus mengeluh akan waktu yang tak lebih dari 24 jam, tentang kisah negeri ini yang jauh dari jangkauan, tentang ‘manusia-manusia Indonesia’, tentang advokasi yang terus memperjuangkan hak-hak manusia, dan tentang, dan kabar seputar kebahagiaan dari negeri ini.
Dari Jiwa untukku

Dengar,

Aku tak paham dengan jalan pikiranmu. Kendati dirimu tak pernah tertarik pada ilmu alam tetapi aku yakin betul bahwa kau pernah mendapati gurumu mengajarkanmu tentang rotasi bumi yang mengakibatkan waktu hanya 24 jam. Jadi, atas dasar apa dirimu terus mengeluh? Syukuri saja lah apa yang telah menjadi kehendak Tuhan. Kau ini juga ciptaannya, seharusnya kau menghargai apa yang sudah ada. Memang kau bisa mengubahnya lagi? Ah yang benar saja!

Hei dengar lagi,

Aku sudah muak mendengar kemurunganmu tentang kabar yang kau tinggalkan karena kesibukanmu. Aku geram apabila kau pulang dengan wajah kusut lalu hanya karena hal konyol seperti “aku lupa membeli koran di pagi hari. Ah selalu begini, pada akhirnya hanya sesal yang kudapati.”

Hei kau, iya kau!

Aku tahu kau sangat mencintai negeri ini bahkan kau lebih mencintai negeri ini daripada diriku. Tak mengapa, karena apa yang kau cinta akan selalu kucintai. Begitu adanya, kau dan aku (jiwamu) tak akan pernah berpisah, kecuali kematian yang akan datang di waktu yang telah ditentukan. Jadi, biarkan aku sepenuhnya mencintai apa yang kau cintai. Dan biarkan aku merasakan apa yang kau rasakan. Tentang kepedihan orang-orang yang kau temui, tentang kisah sedih di balik negeri ini, tentang para pahlawan yang semakin lama semakin dilupakan, tentang cerita manusia biasa yang memperjuangkan hak manusia, dan tentang kerumunan orang-orang di kursi itu yang tanpa lelah tiada henti mencari cara hingga rambut semakin rontok untuk sebuah kesenangan. Bukan, bukan kesenangan kita. Namun kesenangan cacing-cacing di perutnya dan barang branded apalagi yang akan dibeli. Tenang saja, kau tak merasakan pelik itu sendiri. Aku ikut merasakan apa yang kau rasakan. Tak lupa kan bahwa aku dan kau tak bisa dipisahkan?

Namun, dengarlah kali ini kumohon dengarkan aku,

Jangan kau sesali berita yang kau tinggalkan, tiada guna bagimu hanya menambah rasa salah! Padahal sama sekali tak salah! Kau tahu, dengar-dengar berita harian sungguh membosankan. Surat kabar, surat elektronik, dan twitter yang penuh kicauan pun selalu menciptakan sensasi demi sensasi untuk memberikan dampak yang bombastis bagi rakyat di negeri ini. kau tahu polemik penguasa? Ya, berita itu terus dimuat dimana-mana seakan mengalihkan perhatian rakyat dan membuatnya semakin lupa atas kejadian-kejadian yang lebih berarti yang belum terselesaikan. Maka dari itu jangan kaget jika rakyat di negeri ini mudah lupa atas peristiwa penting. Aku pun juga tak mengerti apa yang ada di pikirannya. Tak hanya itu, berita harian hanya tentang ‘mereka’, ‘mereka’, dan ‘mereka’ jangan harap ‘kami’ yang menjadi subjeknya. Terus saja ‘kami’ hanya menjadi objek. Sudah berapa banyak rakyat kecil mati kelaparan dan tak punya rumah? Dan sudah sebesar apa buncitnya ‘mereka’ yang terus mengambil hak si kecil? Ketahuilah bahwa dengan kau tak mengikuti kabar harian itu bukan berarti kau melewatkan kabar penting dari negeri ini. justru jika kau tak mengikutinya akan mengurangi pedih yang turut juga kau rasakan atas penderitaan rakyat di negeri ini. yang kau cari jarang ditemukan di kabar harian. Yang kau temukan hanya sensasi-sensasi baru yang terus mencetak rekor di tiap tahunnya. Tenang saja, kau akan lebih menjadi manusia bebas jika kau tak terbebani dengan kabar harian.

Karena yang penting bagi kita dan yang merugi bagi ‘mereka’ hanya akan terus disembunyikan. Perihal reklamasi dan perlawanan rakyat di Bali hanya akan menjadi topik bahasan para aktivis dan advokasi atau segelintir yang masih mau peduli. Tentang kebakaran hutan yang terus terjadi hanya akan kau dapati langsung. Tentang daerah perbatasan yang tak pernah mendapat keadilan dan terus menggantungkan hidupnya dengan negara tetangga juga tak ada. Maka ini bukan salah ‘kita’ yang masih mau peduli, tetapi karena kabar harian jarang membahas. Tentang negeri ini, tentang budaya ini, tentang etnik ini, tentang keragaman, tentang keindahan dan panorama, tentang kesenian lokal, tentang prestasi negeri ini, tentang kebanggaan putra-putri negeri ini, tentang hebatnya penghasilan negeri ini, tentang potensi negeri, tentang sumber daya alam, tentang wawasan nusantara, dan tentang nilai luhur yang lahir dari idelologi yang diakui keindahannya oleh dunia, “pancasila” langka untuk ditemukan. Dan yang kau temukan hanya polemik dan kabar yang membuat kepalamu semakin sakit.

Jadi, janganlah bersedih apabila waktumu hanya 24 jam dan kau tak bisa terus mengikuti kabar tentang negeri ini yang harus kau perbarui tiap harinya, karena kabar itu tak akan menghapus kepedihanmu, karena kabar itu tak akan mengurangi kemiskinan yang dideritanya, karena kabar itu tak memberikan perubahan apa-apa bagi hidupnya, karena kabar itu hanya akan membuatmu edan! Biarlah dirimu dan aku merasakan dan mendapati kabar yang kita ekspetasikan secara langsung dengan mengenali tanah indah ini yang turun-temurun dari nenek moyang yang katanya pelaut dan dahulu pada zaman Belanda dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbaik. Biarkan aku merasakan dan memperjelas fakta yang ada dengan bantuan dengan pikiran, mata, telinga, hati, tangan, dan kakimu. Biarlah kakimu membawa kita untuk memijak tanah negeri ini dari Sabang hingga Merauke sehingga kita dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini dan ragamnya wajah-wajah dari negeri ini karena banyak yang bilang negeri ini terkenal dengan perbedaan. Bahkan hari raya islam juga berbeda! 



Kau tahu mengapa aku menangis? Aku menangisimu yang sesal karena kabar yang kau lewati tentang negeri ini. Tak ada bahagia yang kau dapat, kepiluan hanya akan terus mencekikmu. Untuk itu aku menangis! Aku juga menangis karena kau tak pernah memberikan kesempatan padaku untuk mengenal apa yang kau cintai secara langsung, kau hanya mencintai lewat kabar yang kau telan mentah-mentah. Tidak usah! Tidak perlu! Gunakan pikiran, mata, telinga, kaki, dan tanganmu untuk bergegas mencari tahu sendiri tentang 'kabar sebenarnya', 'kabar yang disembunyikan', dan 'kabar yang harus dikabarkan' pada sesama rakyat negeri ini, dan izinkanlah aku bertualang denganmu untuk menjajal seantero negeri ini. Sekali lagi, janganlah kau gelisah. Janganlah kau bersedih. 



Tertanda,


Jiwa

Copyright ©AlanisAngelitaaa.blogspot.com. All rights reserved.

2 comments:

  1. Salam kenal. Numpang promo ya :)
    amrayfathi24.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. mengandung arti yang sangat dalam sampai aku tidak begitu paham....

    ReplyDelete

Diharapkan komentar yang membangun