[SBI] Video Game: Bukan untuk Diblokir
Belum lama ini beredar wacana pemblokiran sejumlah video game oleh Pemerintah Indonesia melalui Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Bagaimana ya, sebagai pemain game sejak masih anak-anak, saya tidak setuju dengan wacana tersebut, namun sebagai masyarakat biasa, saya tetap tidak setuju dengan wacana pemblokiran tersebut. Melalui tulisan ini saya mencoba menjelaskan berbagai aspek mengenai video game khususnya genre role-playing game, (sebab hampir semua judul game yang akan diblokir berasal dari genre ini) dan menawarkan win-win solution.
Pertama-tama mari kita mengenal terlebih dahulu apa itu role-playing game.
Role-playing game (RPG) adalah sebuah permainan yang pemainnya memainkan peran tokoh khayalan untuk menempuh sebuah jalan cerita. Pemain memilih aksi tokoh mereka berdasarkan karakteristik tokoh tersebut, dan keberhasilan aksi pemain tergantung dari sistem peraturan permainan yang telah ditentukan.
Pada dasarnya RPG dibagi menjadi dua, yaitu table top RPG dan video game RPG. Karena yang akan diblokir adalah video game RPG, saya akan membahas khusus tentang video game RPG.
Tidak dapat dipungkiri, saya adalah seorang gamer, sebab saya sudah main PS sejak masih TK dan sampai sekarang masih bermain game di PC. Meskipun kebanyakan gamer memilih bermain game online (di mana antara pemain satu sama lain dapat saling berinteraksi melalui koneksi internet), saya lebih suka bermain game offline, khususnya genre role-playing game (RPG). Kenapa? Menurut saya pribadi, game RPG offline menawarkan pengalaman yang lebih dalam dan menyenangkan saat memainkannya. Selain itu saya sangat payah dan kalahan kalau bermain game online. Hahahaha.
Terdapat beberapa elemen yang membentuk satu kesatuan game RPG, yakni
1. Gameplay
Bagaimana game dimainkan oleh pemain. Dalam RPG biasanya terbagi dalam beberapa genre gameplay, antara lain action (GTA, Assassin's Creed), turn-based (Final Fantasy, Pokemon), first person (Mass Effect, The Elder Scrolls), simulation (Harvest Moon, The Sims), dan beberapa lainnya.
2. Character
Apa dan bagaimana karakter yang dimainkan player? Apakah pemain memainkan peran seorang buronan, atau seorang pangeran, atau orang yang amnesia, atau pembunuh bayaran, atau bahkan tukang ngupas brambang.
3. Storyline
Bagaimana pemain dibawa ke alam game dengan narasi, adegan, cut scene dan dialog. Bagaimana kepribadian para karakter berkembang seiring konflik yang dialaminya. Storyline bisa berupa linear atau non-linear. Storyline linear yaitu kita sebagai player tidak bisa memilih akhir dari cerita tokoh kita, jadi sejak awal sudah ditakdirkan misalnya untuk menyelamatkan dunia. Storyline non-linear yaitu kita bisa memilih akhir dari tokoh yang kita mainkan. Misalnya kita bisa memilih akan mengkhianati teman dengan melarikan diri dari pertempuran terakhir, lalu seluruh pasukan dikalahkan dan kita mendapatkan sad ending atau kita memilih bertarung bersama lalu menang dan mendapatkan happy ending. Inilah keunggulan game offline dibandingkan dengan game online. Kebanyakan game online kurang memperhatikan storyline karena memang tidak terlalu penting bagi game online.
4. Setting
Di mana dan kapan permainan berlangsung? Apakah di kota New York sebelum masehi, atau di kerajaan Singasari, atau di dunia dongeng tempat para wayang tinggal, atau bahkan di Desa Sukamaju tahun 2316. Setting sangat menentukan karakter macam apa yang akan kita mainkan, bagaimana karakter berinteraksi dengan masyarakat (NPC) dan bagaimana karakter berinteraksi dengan teknologi pada peradaban dalam setting tersebut.
Itu baru unsur dasarnya. Masih banyak unsur additional lainnya seperti grafik, musik, moral value, voice acting, replay value, content dan sebagainya. Akan jadi terlalu panjang kalau saya bahas semua. Hehehe.
Video game pada dasarnya sama saja dengan sebuah buku, musik, dan video. Sedangkan game RPG sama saja dengan novel, musik yang bercerita dan film. Video game adalah salah satu bentuk hiburan yang sangat mendidik, bahkan bisa dibilang sama mendidiknya dengan membaca buku.
Dalam kebanyakan game RPG yang berstoryline non-linear, kita diberi pilihan akan menjadi tokoh yang seperti apa. Apakah menjadi pahlawan dan pembela kebenaran, atau menjadi penjahat kaliber internasional, atau sekadar jadi maling rumah tetangga. Ketiganya sama-sama baik. Jika kita memilih menjadi pahlawan, tentu kita akan belajar mengambil keputusan yang baik, membedakan kebaikan dengan keburukan, serta berusaha untuk mengatasi permasalahan. Jika kita memilih menjadi penjaha atau malingt, kita bisa belajar masalah moral. Dalam game Grand Theft Auto, ketika kita bertindak kekerasan/kejahatan (mencuri, membunuh) ketika ketahuan maka akan langsung berurusan dengan polisi. Begitu pula game-game lainnya seperti The Elder Scrolls ketika ketahuan melakukan tindakan kriminal akan ditangkap dan diberikan pilihan: denda, dipenjara, atau mati.
Melakukan kekerasan dalam dunia game RPG berarti harus siap dengan segala konsekuensinya; dikejar-kejar polisi, dipenjara, denda, dsb. Kekerasan dalam game bukan berarti membantai ribuan orang tak bersalah secara membabibuta tanpa konsekuensi moralitas apapun. Biasanya tokoh yang boleh dibunuh/disakiti dalam game hanya tokoh villain, musuh sang tokoh utama, serta anak buahnya.
Lagipula, dengan melakukan kekerasan dalam game bukan berarti pemain akan menirukan tindakannya dalam game. Jika kita berpikiran game yang menyediakan konten kekerasan akan mengajarkan kita berbagai bentuk kekerasan, itu sama saja dengan kita berpikiran bahwa film bergenre action blockbuster seperti Fast & Furious dan The Raid mengajarkan kita berbuat kekerasan. Mengapa film action tidak diblokir juga peredarannya di bioskop Indonesia?
Lebih lagi, hampir tidak ada video game yang tidak memiliki unsur kekerasan. Bahkan dalam game seperti Super Mario Brothers saja, Mario si tukang ledeng harus "membunuh" musuh-musuhnya (jamur dan kura-kura) untuk dapat melanjutkan perjalannya menuju stage berikutnya. Dalam game simulasi yang ditujukan untuk semua umur seperti Harvest Moon pun terdapat fitur kekerasan berupa sabung ayam. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kekerasan dalam video game memiliki suatu purpose tertentu yang mengarah pada gameplay dan storyline.
Bagaimana dengan pornografi?
Pornografi dalam game tidak seeksplisit yang ditampilkan dalam film. Satu-satunya game yang pernah saya mainkan yang memiliki konten pornografi yang cukup eksplisit hanya satu, yaitu Grand Theft Auto V. Game tersebut pun sudah tersertifikasi M (mature/dewasa) pada rating kecocokan usia ESRB. Beberapa game lainnya memiliki sangat sedikit konten porno yang bukan berbentuk visual, hanya berupa audio atau line dialog yang mengisyaratkan tengah terjadi "hubungan", lagi-lagi sekadar untuk kepentingan storyline.
Yang pasti konten pornografi dalam video game masih pada level yang sangat wajar dan jika dibandingkan dengan konten pornografi dalam film masih jauh lebih eksplisit pornografi pada film. Kalaupun diminta menyebutkan judul-judul film yang pernah saya tonton yang memiliki konten pornografi eksplisit, saya bisa menyebutkan puluhan judul.
Fenomena ini sepertinya bukan merupakan standar ganda yang diberlakukan pemerintah yang bersangkutan. Pemerintah yang bersangkutan, yang mewacanakan pemblokiran beberapa video game hanya belum pernah bermain video game. Bisa jadi timnya (yang mewacanakan pemblokiran) hanya melihat video gameplay di youtube yang memperlihatkan kekerasan dan sedikit pornografi lalu langsung mengambil keputusan bahwa video game harus diblokir. Tidak sesederhana itu.
Pun setelah diblokir, lalu apa? Masih ada toko online game global seperti Steam, masih banyak situs global penjual game secara online lainnya. Masih banyak pula situs yang menyediakan game bajakan. Seluruh situs tersebut harus diblokir juga? Padahal mereka juga menjual game yang lain, bukan hanya yang mengandung kekerasan atau pornografi.
Solusinya?
Bukan Filosofi Kerja namanya jika hanya mengkritik tanpa menawarkan solusi. Berikut saya paparkan beberapa tindakan yang dapat dilakukan pemerintah dan dewan untuk mengatasi konten kekerasan dan pornografi dalam video game, selain dengan memblokir tentunya.
- Raise awareness-jika memang tujuannya untuk perlindungan anak, sebaiknya pemerintah memberikan pemahaman yang jelas mengenai rating usia ESRB melalui sebuah kampanye yang tertarget pada orangtua, supaya orangtua tidak asal mengizinkan anak memainkan game yang memiliki rating di atas usia anak mereka
- Legislasi-memberikan aturan yang ketat bagi penjual video game, contohnya pembeli harus menunjukkan KTP untuk membeli game berrating M dan AO dan harus menunjukkan kartu pelajar untuk membeli game berrating T.
- Don't-tidak perlu membuat rating sendiri, itu akan menghabiskan banyak APBN dan waktu. Menurut saya walaupun terdapat perbedaan kebudayaan yang signifikan antara budaya Indonesia dengan budaya asing tempat video game berasal, rating ESRB sudah cukup akurat dan valid untuk diberlakukan di Indonesia.
Saya akhiri tulisan kali ini. Saya berharap pembaca dapat lebih memahami berbagai aspek mengenai video game serta isu yang diangkat pewacana pemblokiran beberapa video game.
"Dropping the news to my parents that I was skipping my 'dream education' at Chalmers to sit at home recording videos while playing video games was not easy."-Felix Kjellberg alias PewDiePie, gamer yang menjadi salah satu dari 100 most influential person in the world versi TIMES.
[Baca seri Solusi Buat Indonesia lainnya:
4. Solusi Buat Indonesia: Video Game Bukan untuk Diblokir]


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun