Tentang Minat Baca Anak Muda Indonesia

10:56 AM Terra Qoriawan 0 Comments



Halo teman-teman, kira-kira satu setengah tahun saya tidak post di blog ini karena kemalasan yang luar biasa. Namun dilatarbelakangi kedengkian saya pada teman-teman saya yang minat bacanya sangat rendah, maka saya memutuskan untuk meluapkan kekesalan saya di sini.

Sudah tidak perlu dibuktikan lagi kalau minat baca orang Indonesia amat rendah. Padahal untuk membangun sebuah negara menjadi negara maju, diperlukan dukungan dari sumber daya manusianya, yang jika banyak membaca akan memiliki intelegensi tinggi sehingga memiliki etos kerja yang baik lalu dapat menumbuhkan pendapatan per kapita.

Rendahnya minat baca anak muda telah melahirkan generasi seperti generasi saya ini. Argumen-argumen ngawur seringkali terlontar dari mulut anak muda. Dampaknya pada misunderstanding terhadap suatu materi. Misalnya saat sedang berdebat tentang suatu hal, teman-teman saya seringkali menggunakan kata-kata “mungkin” dan “katanya” padahal kata “mungkin” menandakan keraguan dan “katanya” menandakan ketidak-jelasan sumber. Hal ini mengakibatkan miskonsepsi terhadap materi yang diperdebatkan pada para pendengarnya dan lawan bicaranya.

Kurangnya minat baca juga mengakibatkan banyak terjadi kesalahpahaman terhadap suatu teori, contohnya pada komunisme dan sekulerisme, kebanyakan saat saya menanyakan mengenai kedua hal tersebut pada teman-teman saya, raut wajahnya langsung merendahkan dan intinya mereka tidak senang dengan kedua ajaran tersebut karena erat hubungannya dengan atheisme. Padahal kedua ajaran hubungannya tidak ada hubungannya dengan atheisme. Seorang Tan Malaka yang merupakan seorang datuk yang taat beragama islam menganut paham Komunis, Negara Turki penganut paham sekulerisme namun memperbolehkan segala bentuk peribadatan. Selain itu terdapat kesalahan pemahaman pada paham materialisme, teman-teman saya mengatakan materialisme adalah paham seseorang yang kebanyakan perempuan, yang berhasrat materi atau harta benda. Padahal materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi, yang artinya tidak mengakui keberadaan zat gaib seperti Tuhan, setan, hantu atau malaikat.

Kurang luasnya wawasan akibat tidak pernah membaca serta banyaknya misunderstanding dan miskonsepsi  tersebut mengakibatkan pemikiran anak muda sulit maju karena pemahaman mereka tentang wawasan umum tertutup rapat karena tidak pernah dibuka lewat membaca buku. Ingat kalimat “buku adalah jendela dunia” memang benar. Sehingga tertutupnya pemikiran mengakibatkan pada sikap mereka yang wegah rekoso, tidak mau susah, tidak mau bekerja, tidak terbuka pada perubahan, tidak mau bergerak, yang akhirnya menciptakan kosakata baru di kalangan anak muda, mager atau akronim dari males gerak.

Hal ini diperparah oleh demam gadget yang menjangkiti anak-anak muda. Waktu senggang anak muda lebih banyak dihabiskan di dunia maya, yang mengharuskannya bertindak konsumtif supaya mendapatkan pengakuan exist dari teman-temannya. Yang juga perilaku konsumtif ini kadang berdampak buruk pada waktu luang anak muda yang kehabisan waktu untuk membaca buku dan memperluas pengetahuan. Dan akhirnya sumber informasi satu-satunya adalah melalui gadget yang mudah dibawa kemana-mana, sehingga informasi yang masuk banyak yang tidak tersaring karena di internet banyak sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dapat mengakibatkan sub-kebudayaan menyimpang yang akhirnya membawanya ke arah yang salah.

Jadi saran saya kepada pemerintahan, tidak perlu lah pengerahan dana BOS besar-besaran untuk pembelian buku yang akhirnya hanya berakhir di perpustakaan sekolah tak tersentuh. Di perpustakaan di sekolah saya buku sudah cukup banyak, tidak perlu lagi pemberian buku. Cukup buat kebijakan wajib membaca buku di tempat umum (misalnya rumah sakit, kantor, rumah makan, pusat perbelanjaan) dan jika diperlukan mengerahkan polisi atau polwan yang berpatroli mengawasi. Dimulai dari kota besar terlebih dahulu. Kebijakan sederhana seperti itu akan berdampak sangat besar pada perkembangan SDM Indonesia yang sering dirasa tidak berkualitas. Dengan kebijakan wajib membaca dapat membuka pemikiran anak-anak muda maupun orang dewasa sehingga intelegensi bangsa ini berkembang dan dampaknya pada kualitas faktor produksi tenaga kerja, yang akan menghasilkan produk berkualitas yang dapat bersaing dengan produk mancanegara, sehingga devisa negara bertambah, pendapatan per kapita naik, dan Indonesia bisa menjadi negara maju, namun hal ini diperlukan dukungan dari semua pihak.
Sumber :

0 comments:

Diharapkan komentar yang membangun