Tentang Minat Baca Anak Muda Indonesia
Halo teman-teman, kira-kira satu setengah tahun saya tidak
post di blog ini karena kemalasan yang luar biasa. Namun dilatarbelakangi
kedengkian saya pada teman-teman saya yang minat bacanya sangat rendah, maka
saya memutuskan untuk meluapkan kekesalan saya di sini.
Sudah tidak perlu dibuktikan lagi kalau minat baca orang
Indonesia amat rendah. Padahal untuk membangun sebuah negara menjadi negara
maju, diperlukan dukungan dari sumber daya manusianya, yang jika banyak membaca
akan memiliki intelegensi tinggi sehingga memiliki etos kerja yang baik lalu
dapat menumbuhkan pendapatan per kapita.
Rendahnya minat baca anak muda telah melahirkan generasi
seperti generasi saya ini. Argumen-argumen ngawur seringkali terlontar dari
mulut anak muda. Dampaknya pada misunderstanding
terhadap suatu materi. Misalnya saat sedang berdebat tentang suatu hal,
teman-teman saya seringkali menggunakan kata-kata “mungkin” dan “katanya”
padahal kata “mungkin” menandakan keraguan dan “katanya” menandakan
ketidak-jelasan sumber. Hal ini mengakibatkan miskonsepsi terhadap materi yang
diperdebatkan pada para pendengarnya dan lawan bicaranya.
Kurangnya minat baca juga mengakibatkan banyak terjadi
kesalahpahaman terhadap suatu teori, contohnya pada komunisme dan sekulerisme,
kebanyakan saat saya menanyakan mengenai kedua hal tersebut pada teman-teman
saya, raut wajahnya langsung merendahkan dan intinya mereka tidak senang dengan
kedua ajaran tersebut karena erat hubungannya dengan atheisme. Padahal kedua
ajaran hubungannya tidak ada hubungannya dengan atheisme. Seorang Tan Malaka
yang merupakan seorang datuk yang taat beragama islam menganut paham Komunis, Negara
Turki penganut paham sekulerisme namun memperbolehkan segala bentuk
peribadatan. Selain itu terdapat kesalahan pemahaman pada paham materialisme,
teman-teman saya mengatakan materialisme adalah paham seseorang yang kebanyakan
perempuan, yang berhasrat materi atau harta benda. Padahal materialisme adalah
paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar
ada adalah materi, yang artinya tidak mengakui keberadaan zat gaib seperti
Tuhan, setan, hantu atau malaikat.
Kurang luasnya wawasan akibat tidak pernah membaca serta banyaknya
misunderstanding dan miskonsepsi
tersebut mengakibatkan pemikiran anak muda sulit maju karena pemahaman
mereka tentang wawasan umum tertutup rapat karena tidak pernah dibuka lewat
membaca buku. Ingat kalimat “buku adalah jendela dunia” memang benar. Sehingga
tertutupnya pemikiran mengakibatkan pada sikap mereka yang wegah rekoso, tidak mau susah, tidak mau bekerja, tidak terbuka
pada perubahan, tidak mau bergerak, yang akhirnya menciptakan kosakata baru di
kalangan anak muda, mager atau
akronim dari males gerak.
Hal ini diperparah oleh demam gadget yang menjangkiti anak-anak muda. Waktu senggang anak muda
lebih banyak dihabiskan di dunia maya, yang mengharuskannya bertindak konsumtif
supaya mendapatkan pengakuan exist dari
teman-temannya. Yang juga perilaku konsumtif ini kadang berdampak buruk pada
waktu luang anak muda yang kehabisan waktu untuk membaca buku dan memperluas
pengetahuan. Dan akhirnya sumber informasi satu-satunya adalah melalui gadget yang mudah dibawa kemana-mana,
sehingga informasi yang masuk banyak yang tidak tersaring karena di internet
banyak sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dapat mengakibatkan
sub-kebudayaan menyimpang yang akhirnya membawanya ke arah yang salah.
Jadi saran saya kepada pemerintahan, tidak perlu lah
pengerahan dana BOS besar-besaran untuk pembelian buku yang akhirnya hanya
berakhir di perpustakaan sekolah tak tersentuh. Di perpustakaan di sekolah saya
buku sudah cukup banyak, tidak perlu lagi pemberian buku. Cukup buat kebijakan wajib
membaca buku di tempat umum (misalnya rumah sakit, kantor, rumah makan, pusat
perbelanjaan) dan jika diperlukan mengerahkan polisi atau polwan yang
berpatroli mengawasi. Dimulai dari kota besar terlebih dahulu. Kebijakan
sederhana seperti itu akan berdampak sangat besar pada perkembangan SDM
Indonesia yang sering dirasa tidak berkualitas. Dengan kebijakan wajib membaca
dapat membuka pemikiran anak-anak muda maupun orang dewasa sehingga intelegensi
bangsa ini berkembang dan dampaknya pada kualitas faktor produksi tenaga kerja,
yang akan menghasilkan produk berkualitas yang dapat bersaing dengan produk
mancanegara, sehingga devisa negara bertambah, pendapatan per kapita naik, dan
Indonesia bisa menjadi negara maju, namun hal ini diperlukan dukungan dari
semua pihak.
Sumber :


0 comments:
Diharapkan komentar yang membangun