Dialog Sampah

3:01 AM Terra Qoriawan 1 Comments


Aku punya mimpi. Bukan mimpi menggapai angan-angan, melainkan mimpi di tengah tidur. Kira-kira manusia bermimpi 2 jam tiap tidurnya, dan satu cerita mimpi berdurasi 5 hingga 20 menit.
Pagi ini pukul 2:22 aku terbangun. Dini hari ini selalu membawa suasana yang nyaman dan melankolis. Dini hari selalu memeluk insan yang terjaga, merefleksikan diri mereka.
Tidak akan ada yang peduli, apakah anda disakiti, saya disakiti, saya mengeluh, dia mengeluh, semua tidak akan peduli pada saya, pada anda, jika tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Entahlah saya ini sedang menulis apa di dini hari ini saya berdialog dengan diri saya sendiri, sepertinya saya memang berdialog dini hari dengan alter-ego saya.
Alter-ego saya ini seorang yang tidak pandai berkata-kata tetapi hatinya tulus. Ia ingin berpesan pada generasi kita.
"Tolong Buanglah Sampah Pada Tempat Sampah"
Satu kalimat yang tidak pernah efektif, tidak pernah efisien. Karena budaya kita membuang sampah di trotoar, di badan jalan, di lantai, di sungai, di selokan, di laci meja, di tanah lapang, adalah sebenarnya budaya manusia tak beradab. Yang bahkan kita kalah beradab oleh seorang Homo erectus yang mampu mengumpulkan limbah makanannya menjadi sebuah tumpukan yang sekarang kita kenal sebagai kjokkenmoddinger.
Sebenarnya untuk menyelamatkan bumi kita tidak perlu anda repot-repot menggambar poster, menyosialisasi, atau menuntut Jokowi pemerintah melakukan sesuatu.
Sebenarnya masalahnya ada pada diri kita sendiri. Dengan membuang sampah pada tempat sampah, Indonesia akan memiliki harga diri. Harga diri yang selama ini hilang oleh prestige semu dan perasaan malu membuang sampah yang maya.
Alter-ego saya berpesan "Kalau tidak ingin banjir, jangan sindir atau menyalahkan pemerintah. Ngaca dulu deh lo udah buang sampah di tempat sampah atau belum."

1 comment:

  1. bener tuh gan, pada ngeluh banjir tapi masih tetep pada buang sampah sembarangan. Parah. Btw nice post

    ReplyDelete

Diharapkan komentar yang membangun